Minggu, 06 Juni 2010

welirang arjuna

Aku pernah menyatakan keinginanku
untuk membawamu mendaki gunung Welirang
melintas gunung Kembar
mencapai puncak Arjuna
dan turun ke kota Malang.
Kau tak pernah mau ......

Seandainya kau lihat gunung Arjuna,
seperti seorang raksasa gendut duduk kesepian mengawasi kota Malang.
Coba kau bandingkan dengan saudara kembarnya gunung Welirang,
yang selalu ramai di penuhi lalu lalang para pencari belerang.
Gunung Arjuna di kelilingi hutan Lali Jiwo, di penuhi misteri.
Seperti dirimu .......

Bisakah kau lihat,
sebuah rencana, sebuah keinginan tengah kubuat
memenuhi rasa dan cita pada tingginya sebuah gunung
Kau mau ikut atau tidak ...........
(ah.....tak seharusnya kutanyakan karena selalu saja kau biarkan aku pergi
sendiri)

Saat waktu datang mencair, aku takkan mau melewatkan
sebuah pendakian
sebuah gunung
sebuah Welirang
semua mengalir apa adanya sampai puncak Welirang
Aku tahu kau menghela nafas panjang .......

Badai mulai menghadang di lembah kembar
saat itu baru kurasa, keinginan itu tidak semudah membalikkan tangan.
Kita hanya berputar, di kawasan hutan Lali Jiwo
Kau mulai cemas .........

Jalan setapak yang seharusnya ada,
seperti tergambar di peta ternyata tidak selalu ada,
di beberapa tempat sudah hilang.
Cuaca yang semestinya bersahabat,
sepanjang hari hujan berkabut tebal.
Kau mulai cemas ........

Dua hari kemudian,
aku berhasil menembus hutan Lali Jiwo ini
potong kompas selagi sempat ke arah barat
berhasil keluar di Cangar - Batu
Tarikan nafas panjangmu terdengar olehku.............

Depot pertama jadi korban,
Tongseng Baso Ayam Goreng Esteemje Soda Gembira
impian dalam hutan sekarang jadi nyata
Di depan mata men........!
Benar-benar di depan mata !
Aku kegirangan !
Kau kegirangan, cepatlah pulang ................

Tidak lupa,
yang lebih penting dari yang terpenting : r o k o k
jika kehabisan makanan di hutan
masih bisa bikin pecel salad urap
banyak dedaunan muda yang bisa kita lalap
kalau kehabisan rokok di hutan ?
kepala nyut nyut nyut .......
Berhentilah merokok, pintamu.
(Aku akan dan aku pasti dan aku selalu berjanji.)

Di lain waktu, aku rubah strategi
Kau kembali cemas.........

Sekarang aku akan memulainya dari Karang Loh,
mencapai gunung Arjuna dahulu baru turun dari gunung Welirang
Haruskah kau lakukan lagi ?, tanyamu

Pendakian ke puncak Arjuna lancar
walaupun lebih berat lebih terjal.
Kau mulai menghilang..........

Dari puncak Arjuna,
baru aku merasa kesulitan demi kesulitan menghadang
bukanlah perkara mudah
mencari arah ke puncak Welirang
puncak berbatu dan di kelilingi jurang yang terjal
susah payah aku mengikutinya
Dimanakan dirimu, aku mulai mencari
............

Tapi aku salah mengajak teman
mereka ternyata para manusia normal
begitu terperangkap kawasan hutan Lali Jiwo
semua mengeluarkan banyak alasan yang nggak masuk di akal
2 hari lagi ujian lah
adik pacar mau ulang tahun lah
mesti nganter mami ke ondangan lah
alasan inilah
alasan itulah
terpaksa kembali ke jalan yang benar.
Aku disini menunggu, cepatlah pulang .........

Hampir putus asa
Kau tak mengerti............

Kesempatan datang lagi
Kau semakin tak mengerti.........

Rencana semula keinginan semula,
naik kembali dari gunung Welirang turun dari gunung Arjuna
kali ini harus berhasil
Aku berjanji.......

Cuaca cerah,
kali ini aku bersikeras menembus kawasan hutan Lali Jiwo
walaupun rintangan menghadang
untuk mencapai puncak Arjuna
harus merangkak naik melalui tebing-tebing batu terjal.
Berhasil juga.
Kau mulai membisu .............

Dari puncak Arjuna turun, bukan ke arah Karang Loh
tapi melalui perkebunan teh Wonosari - Lawang.
Bicaralah padaku .........

Agak kecewa, tapi itulah yang terbaik
kesempatan itu tidak pernah datang lagi
tidak ada yang mau menemani lagi
(woooh oh wooooh ......
kamu ketahuan ....
pacaran lagi dengan dirinya
teman baikku....
woooh oh oh .........)



220907

Sabtu, 05 Juni 2010

lewat tengah malam 2

Sebulan kemudian. 

Aku terkejut, terjadi perubahan pada Oka, tubuhnya terus mengurus. Aku bertanya-tanya, kau diet ? Tapi Oka menggelengkan kepala. Lebih aneh lagi, biarpun tubuhnya mengurus, nafsu makannya betul-betul meningkat pesat. Setiap saat ia selalu ingin makan dan makan. Apa yang terjadi, benar-benar tidak dapat dimengerti. Selama sebulan ini Oka sudah kehilangan 10 kg berat badannya.

Ayahnya seorang dokter, kepala rumah sakit di Sanglah, juga tidak mengerti.
- Belum pernah ada kasus seperti ini. Semacam bulimia, tapi lain, kata beliau. 
Waktu terus berjalan, keadaan Oka semakin parah. Oka semakin kurus saja, sudah seperti tengkorak berjalan. Ia betul-betul kehilangan berat badan. Jalannya sudah tertatih-tatih. Aku dan teman-teman Oka yang lain juga kebingungan. 
Sampai akhirnya, seorang Tetuah Adat setempat, Pekak Tantra, memberi tahu bahwa Oka kena teluh. Aku dan Oka terdiam. Aku hanya berandai-andai, apakah ada hubungannya dengan kejadian sebulan yang lalu. Dan ternyata Pekak Tantra mengiyakan.
- Kau telah menabrak Sang Bahurekso Penunggu Gunung Raung.
- Bagaimana mungkin ? gunungnya masih jauh dari lokasi kami menabrak.
- Entahlah, kita kan tidak pernah tahu apa yang dikerjakan mereka. Mereka bukanlah manusia seperti kita.
- Jadi kami harus bagaimana ?
- Kalian berdua harus naik gunung Raung, menemui dia, mohon maaf.
- Bagaimana mungkin ? Menggerakkan kakinya saja Oka tidak bisa, kataku.
- Jangan khawatir kami akan menemanimu, kata teman-teman Oka.
- Tidak boleh, tidak boleh, hanya mereka berdua yang harus menemui mereka di puncak Raung sana, kata Pekak Tantra.
- Jadi …….? 
- Paling tidak kalian bisa mengantar sampai batas puncak, Pondok Mayit ?
Pekak Tantra mengangguk-angguk, Kau harus hati-hati, sebab yang akan kau hadapi nanti adalah alam dunia bawah sadarmu. Kau harus mampu mengendalikan ruang pikiranmu.
Aku tidak mengerti.
- Disana kau akan mengerti sendiri, kau akan memasuki ruang pikiranmu sendiri. Menciptakan alam dunia bawah sadarmu, jadi yang kau hadapi nanti bukanlah dunia nyata seperti sekarang ini. Yang akan kau hadapi adalah makhluk lain bukan manusia seperti kita, mahkluk yang terbentuk dari ruang pikiranmu sendiri, Pekak Tantra menjelaskan. 
Aku tetap tidak mengerti. Pekak Tantra hanya menggeleng-gelengkan kepala, kasian deh eloe !

Naik gunung Raung di saat normal saja cukup melelahkan, apalagi sekarang dengan kondisi Oka yang sakit, lebih melelahkan lagi. Kami bergantian menggendongnya. Di pondok mayit, kami berpisah. Aku dan Oka dengan susah payah melanjutkan perjalanan, aku memapah Oka mulai mendaki puncak. 
Win dan yang lain melepas kepergian kami dengan berat hati. Pasir batu, kabut tebal disertai angin yang kencang, benar-benar menghalangi jalan. Tempat ini sudah mulai terbuka. Seharusnya dari sini sudah terlihat puncak Raung, tapi sekarang tertutup kabut tebal.
Di suatu tempat datar kami berhenti, untuk istirahat. Oka mengelus-elus perutnya. Lapar, lapar. Aku menyodorkan makanan. Aku betul-betul tidak tahan melihat penderitaannya. Tak pernah terbayangkan olehku, Oka mengalami hal seperti ini. Benar-benar kepayahan naik gunung. 
- Sam….aku tahu apa yang kau pikirkan, kata Oka lemah.
- Biasanya kau begitu bersemangat disetiap pendakian, kataku.
Oka diam saja, mulutnya sibuk memamah makanan. Ia mangangguk-angguk, mengiyakan.
- Kau…memang gila Sam, kata Oka terbata-bata, mulutnya penuh makanan.
- Kau tahu Sam, aku benar-benar cemburu waktu kau pergi berdua dengan Win, keliling pulau Bali. Aku benar-benar cemburu.
Aku hanya tertawa, tentu saja aku ingat. 
- Aku tak menduga begitu cemburunya kau waktu itu, sampai terjatuh dari climbing wall. Win begitu panik mendengar kau jatuh.
Entahlah saat ini aku ingin menggodanya terus. Aku ingin melupakan bahwa kami dalam perjalanan menuju puncak untuk mencari Sang Bahurekso Penunggu Gunung Raung. Malang benar perjalananku kali ini.
- Sebenarnya perlu tidak sih kita kesini ?, kataku sambil berbaring di sebelahnya. Ada rasa segan melihat ke adaan sekeliling kami. Jalanan tertutup kabut, angin bertiup kencang. Rasa dingin membuat suasana di sekeliling kami terasa mencekam.
- Terserah kau saja Sam, kalau kau merasa tidak perlu kita bisa turun lagi.
Aku terdiam. Wajah Win muncul, Berjanjilah Sam, kau dan Oka akan pulang dengan selamat.
Muncul gambar Mei, tiba-tiba aku merasa rindu sekali padanya. Aku tidak mengerti kenapa aku tidak pernah merindukan Ina. Aku tertidur menyusul Oka yang sudah mendengkur kekenyangan. Atau kelelahankah ?
Tepat tengah malam, aku kaget terbangun. Wah celaka ketiduran !, aku cepat bangkit berdiri, ayo Ka kita berjalan lagi. 
Oka diam saja, matanya setengah terpejam. Aku berjongkok memeriksanya. 
- Ka, Oka, bangun…. jangan tidur..., aku mengguncang-guncangkan badannya.
Oka diam tak bereaksi. Gawat, kataku agak panik. Belum hilang rasa panikku, tiba-tiba aku melihat sebuah bayangan.
- Mei ….? Aku terkejut. Tak mungkin ini pasti halusinasi. Tak mungkin Mei berada disini. Di puncak Raung ! 
Perlahan aku mendekati. Bayangan itu benar-benar Mei, ia tersenyum. 
- Akhirnya kau datang juga.
- Jadi……jadi kau sudah menunggu kedatangan kami …?
Mei masih tersenyum, tapi sedetik kemudian ia sudah menghunus pedangnya menyerangku.Aku terkejut, what’s going on ? Sejak kapan Mei pandai bersilat ? Aku mengatasi rasa terkejutku, dengan cepat aku berkelit ke samping. Tapi serangan itu ternyata bukan ditujukan padaku. Serangan secara tajam lebih mengarah pada Oka yang tergolek lemah. Serangan penuh dendam amarah.
- Celaka …! Aku berteriak keras. Takkan kubiarkan kau menyentuh dia….!
Aku segera membalikkan badan sambil mengeluarkan pedangku – aku benar-benar tidak mengerti darimana asal pedang ini – ku gunakan pedangku untuk memotong serangan Mei. Inikah dunia bawah sadarku ? seperti kata Pekik Tantra ? Aku bertanya-tanya tidak mengerti.
- Siapa kau sebenarnya ? kaukah sang bahurekso yang kami cari ?, aku penasaran bertanya-tanya.
Tapi Mei tidak menjawab, ia sudah menyusulnya dengan serangan yang lain, kali ini ia mengincar leherku. Aku kembali berkelit walau aku sadar pasti ini sebuah serangan tipuan lagi. Dugaanku betul ! Begitu aku berkelit, Mei sudah membelokkan serangannya kembali ke arah Oka. Akupun mengikuti bayangan pedangnya. Pedang kami kembali beradu. Mengeluarkan suara nyaring dan sinar menyilaukan mata. Aku dan Mei sama-sama terlempar mundur beberapa meter.
Belum sempat aku mengatur nafas, Mei sudah mengambil ancang-ancang untuk menyerangku. Aku tidak terlalu serius menangkisnya, karena aku tahu pasti ini hanyalah sebuah serangan tipuan yang lain. Tapi kali ini aku keliru !
Pedang Mei dengan cepat mengarah ke leherku, aku tak sempat lagi mengelak. Dalam hitungan detik, aku merasakan ujung pedang Mei yang tajam sudah menembus leherku. Tapi kemudian tubuhku bereaksi sendiri, jalur urat nadiku segera bergeser 5 mm. Tusukan pedang Mei tidak mengenainya. Ilmu menggeser urat nadi ! 
Hal ini juga membuat Mei terkejut, ia segera melompat mundur dengan mata terbelalak. Aku tahu ia pasti tidak percaya. Kesempatan ini kugunakan untuk memulihkan tenagaku dengan cepat. Aku segera melindungi Oka, sambil menunggu serangan Mei berikutnya.
Satu menit dua menit sepuluh menit kemudian. Mei melompat kembali, kali ini aku yakin ia pasti mengeluarkan jurus pamungkasnya. Tubuhnya berputar dengan cepat, dalam sekejap ia sudah berubah menjadi puluhan bayangan. Dimana semuanya mengurung kami berdua dan mulai menyerang kami. Akupun mengeluarkan jurus pertahanan yang ampuh untuk mengimbanginya. Sebenarnya belum sempurna tapi apa boleh buat. Ilmu ulat sutra, aku mengeluarkan energi murniku membentuk semacam kepompong yang keras, yang melindung kami dari puluhan bayangan Mei yang bergelombang mengancam kami. 
Semakin lama semakin keras, aku merasa kepompong ulat sutraku pasti tidak akan bertahan lama. Aku sekuat tenaga mempertahankannya. Tapi gelombangan serangan Mei semakin ganas. Akhirnya aku kehabisan tenaga, aku tersungkur di samping Oka.
- Kita mati bersama ….., kataku sambil memegang tangan Oka.
Oka tidak bereaksi, ia sudah berada dalam keadaan hidup dan mati sendiri.
- Sebenarnya aku sudah mati, Sam, Oka menggumam, aku setengah mendengarnya.
Mei sudah menghunus pedang tajamnya ke arah Oka. Dengan memaksakan diri, aku memasang badan melindungi Oka, kuhunuskan pedangku menyongsong serangan Mei. Ujung pedang kami beradu kembali untuk kesekian kali, bergetar dengan dahsyat, pedangku terbelah dua. Pedang Mei terus meluncur mengancamku. Tinggal menunggu waktu saja, aku hanya dapat menatap nanar. Naluri lelakiku mengatakan, haruskah aku mati karenamu ? 
oh, selamat tinggal Ina, aku mati, aku ma……..
Belum ! Sebutir peluru emas meluncur ke arah pedang Mei. Membiaskan arahnya, dan pastilah dilancarkan orang yang berilmu sempurna. Bahkan pegangan tangan Mei sampai terlepas. Betul-betul tenaga dalam yang murni dan sempurna. Pasti orang ini bukan orang sembarangan, ilmunya di atas Mei.
- Scaramangana Gantenginus Skali, suamiku ! Kenapa kau halangi aku membunuh manusia-manusia itu ……!, Mei berteriak terkejut. Ia gusar sekali. Ternyata suaminya ! Scaramangana Gantenginus Skali. Aha ! laki-laki bersenjatakan pistol emas.
- Hahahahahaha……..Solitaireu Geulisinus Psan istriku, kalau kau bunuh manusia-manusia itu tentu saja kau membunuh Jaws juga. Kau lupa, dengan ilmu Pemindai Sukma, Jaws memindahkan roh spiritnya ke manusia itu, kata makhluk itu - Scaramangana Gantenginus Skali – menunjuk ke arah Oka.
- Tapi Jaws is death !, dia membunuhnya, kata Mei atau Solitaireu Geulisinus Psan istri dari Scaramangana Gantenginus Skali.
- Dia tidak bermaksud membunuh Jaws, manusia itu tidak punya surat ijin membunuh. Lagipula jangan khawatir, Jaws tidak separah yang kau duga, hanya gigi bajanya yang rontok, tapi sudah bisa kusembuhkan. Gigi bajanya sudah bisa kusambung kembali.
Scaramangana Gantenginus Skali kemudian berjalan menghampiri Oka. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa lagi yang akan diperbuat makhluk ini. Walaupun penasaran tapi setidaknya aku merasa lega bahwa makhluk ini tidak berniat membunuh kami. 
Scaramangana Gantenginus Skali memegang kepala Oka, tak berapa lama kemudian seberkas sinar biru keluar dari kepala Oka dan masuk ke mulut Scaramangana Gantenginus Skali.
- Jadi sebenarnya, kau lah yang menyebabkan nafsu makan Oka bertambah kuat, kemudian kau juga yang mengambil Sari Pati tubuh Oka, kataku setengah marah setengah tidak percaya.
- Betul, manusia bodoh.
- Selanjutnya apa yang akan kita perbuat pada manusia-manusia ini, suamiku ?. tanya Solitaireu Geulisinus Psan.
- Biarkan manusia-manusia ini pergi, kita sudah cukup menghukumnya, istriku, jawab Scaramangana Gantenginus Skali.
- Hai manusia-manusia, sekarang kalian boleh pergi, kata Scaramangana Gantenginus Skali pada kami.
- Tapi…..tapi….bagaimana dengan penyakit teman kami Oka, ini ? aku bertanya.
- Lihatlah, dia sudah mulai sembuh, jangan khawatir, jawab Scaramangana Gantenginus Skali lalu melesat pergi. Ilmu Ringan Tubuh yang dimiliki Scaramangana Gantenginus Skali begitu sempurna sampai meninggalkan angin yang keras di belakangnya. Solitaireu Geulisinus Psan bersiap-siap
mengikuti suaminya. Sebelum pergi, Solitaireu Geulisinus Psan memandang ke
arahku dan bertanya, kau sedari tadi memanggilmu Mei. 
- Siapa Mei ? Apakah ia secantik aku …?
- Lebih cantik, kataku.
Alis mata Solitaireu Geulisinus Psan tertarik ke atas. Kelihatan sekali ia tidak senang kalau kukatakan Mei lebih cantik darinya. Sambil mendengus marah, Solitaireu Geulisinus Psan melesat pergi juga menyusul suaminya.

Perlahan kabut menipis, pagipun datang. Win dan teman yang lain berdatangan. Rupanya mereka mendengar suara pertempuran kami dan segera menyusul kami. Untunglah akhirnya Oka sembuh kembali.
- Terima kasih Sam, kata Win.
- Sudahlah…….


tamat


lewat tengah malam !

Hampir lewat tengah malam, agak segan juga untuk pulang, jarak antara Jember – Negara jauh juga, belum lagi harus menyeberang. Ombak selat Bali sedang tidak bersahabat. Apa boleh buat, besok pagi sudah banyak pekerjaan yang menunggu. Aku dan Oka baru saja menghadiri pernikahan kakak Win, Mau.
Win juga khawatir, pulang besok pagi saja.
Aku menggelengkan kepala, Tidak apa-apa, kami sudah biasa jalan malam. Jam 11 lebih kami meninggalkan rumah Win. Oka yang menyetir, aku duduk di sampingnya terkantuk-kantuk, antara tertidur dan terjaga.
Jam sudah menunjukan lewat tengah malam. Selepas Sempalan perjalanan lancar, jalanan sepi dan gelap. Kami melewati jalur selatan. Jember – Sempalan – Kalibaru – Genteng – Rogojampi – Banyuwangi/Ketapang.
Tapi baru saja kami meninggalkan Sempalan, tiba-tiba muncul seseorang menyeberang jalan begitu saja. Aku berteriak memperingatkan Oka. Tapi terlambat ! Jaraknya sudah terlalu dekat. Oka berusaha keras menginjak rem, tapi tetap saja tak bisa menghentikan laju kendaraan seketika. Tak ampun lagi, orang itupun tertabrak.
Oka diam terpaku, ia seperti baru tersadarkan, ..... nyaris saja nabrak !.
- Sing ken ken, kau sudah menabraknya Ka, aku melihat ke belakang. Gelap sekali. Aku melihat ke sekeliling, gelap sekali.
- Mau kemana kau ? tanya Oka melihat aku membuka pintu.
- Melihat korban, jawabku.
Oka ikut turun mengikutiku dari belakang. Tapi aneh tidak ada apa-apa, aku berdiri kebingungan sambil memeriksa ke sekitar. Aneh, padahal jelas tadi ada seseorang menyeberang dan Oka menabraknya. Aku dan Oka memeriksa lebih teliti lagi, tetapi tidak ada siapa-siapa. Bahkan bekas tabrakannyapun juga tidak ada.
- Sam ….. kau yakin kita tadi menabrak seseorang disini ?, tanya Oka.
Aku menganggukkan kepala. Tiba-tiba bulu kudukku mulai berdiri, aku mulai ketakutan, ada yang aneh disini. Aku dan Oka saling berpandangan. Rupanya Oka juga memiliki perasaan yang sama denganku, tanpa banyak bicara, aku dan
Oka segera berlari ke arah mobil. Untung mesin mobil masih menyala, aku segera membuka pintu mobil. Celaka, pintunya terkunci !
- Tidak mungkin, aku tadi tidak menguncinya, teriak Oka.
Aku mendorong-dorong pintu mobil, tapi tetap terkunci. Oka segera berlari ke belakang mencoba membuka pintu belakang, ia mendorong-dorong pintunya. Tepat pada saat itu seberkas sinar warna biru melesat dan masuk ke kepala Oka. Oka agak tersentak, tapi ia terlalu memperhatikan karena sibuk membuka pintu. Berhasil ! Oka segera melompat masuk, ia mencoba membuka kunci pintu dari mobil. Macet ! Aku berlari ke belakang mobil.
Aku sempat melihat ke belakang, kali ini tampak sesosok bayangan berusaha merayap untuk bangkit berdiri, tangannya melambai-lambai ke arah kami. Sang korban ! Betulkah ? Aku tertegun. Kenapa tadi tidak ada ? Dari mana dia muncul ?
- Cepat Sam !, teriakan Oka menyadarkan.
Aku segera meloncat ke dalam mobil, tapi orang itu bergerak lebih cepat lagi. Ia berhasil meraih kakiku.
- Tolong Ka ….. !, kataku.
Oka membantu menarikku, aku berhasil juga melepaskan diri. Oka meloncat ke kursi depan meraih kemudi dan segera tancap gas. Aku menutup pintu mobil, orang itu masih berusaha menahannya, tapi terlepas. Wajahnya tidak jelas, tapi aku yakin pasti berlumuran darah, mengerikan sekali. Hanya giginya terlihat bersilau, aku yakin itu pasti gigi palsu. Semacam terbuat dari logam.
Kami cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut. Di dalam mobil kami hanya berdiam diri, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Nafas kami berdua masih tersengal-sengal.
- Apa yang terjadi ?, Oka masih penasaran. Ia mencoba melihat dari kaca spion, tidak kelihatan apa-apa, gelap sekali di belakang sana.
- Entahlah, aku menggelengkan kepala, tidak mengerti.
Kantuk kami hilang seketika.
- Rasanya tadi bukan manusia, Ka ?, kataku.
Oka melihat ke arahku, maksudmu ?
- Aku juga tidak tahu.
Mata Oka tak berkedip memperhatikan jalanan di depan.
Tak beberapa lama kami sampai di sebuah SPBU. Aku melirik penunjuk bahan bakar, hampir seperempat. Aku menyuruh Oka untuk berhenti dan mengisi bahan bakar. Suasana SPBU sepi sekali, tidak ada orang. Oka membunyikan klakson sambil membuka pintu. Aku masih penasaran membuka pintu, mau
melihat bekas tabrakan tadi. Baru saja aku menurunkan kakiku, tiba-tiba saja - entah datang darimana, sudah ada orang di depan mobil. Sambil menunjuk-nunjuk bagian depan mobil, ia mulai marah-marah. Disusul kemudian beberapa orang mulai berdatangan. Aku tidak jadi turun, Oka cepat-cepat tancap gas meninggalkan tempat itu.
Kami mengusap keringat dingin yang keluar. Melalui kaca spion, aku masih melihat orang-orang itu sedang menunjuk-nunjuk ke arah kami. Anehnya, jari telunjuk mereka terbuat dari emas.
- Aneh, datang dari mana mereka ? , aku masih terheran-heran.
Oka tidak menjawab, wajahnya tegang sekali. Setelah agak jauh, kami berdua agak tenang.
Kami merasa perjalanan semakin panjang, tidak sampai-sampai. Oka terus memacu kendaraan menembus hutan yang masih lebat itu. Akhirnya mendekati subuh jam 4, kami sampai juga di Ketapang. Lega sekali, kami langsung naik ke feri. Di dalam feri, aku malas keluar dari mobil. Oka keluar, naik ke dek atas cari udara segar. Aku merebahkan diri mencoba memejamkan mata. Peristiwa tadi masih terbayang-bayang. Tertidur sebentar, aku sering tersentak bangun sendiri.
Sosok bayangan berusaha bangkit, mulutnya menyeringai menampakkan gigi yang kemilau terbuat dari logam, muncul dalam mimpi pendek. Keringat dingin mengucur deras. Tak lama Oka muncul.
- Kita harus kembali ke sana lagi, Sam, kata Oka mengajakku.
- Kenapa Ka, aku benar-benar tidak mengerti.
- Kalau tidak, kita akan terus dibayang-bayangi peristiwa ini, jawab Oka.
Aku termangu-mangu. Betul juga, pikirku. Tanpa banyak bicara lagi Oka memutar mobil. Kami berdua kembali lagi ke tempat tadi.
Tanpa kusadari cuaca yang tadi terang berubah menjadi gelap. Sesampai
disana, ternyata orang-orang itu masih ada dan seperti menunggu kedatangan kami. Tentu saja aku terkejut, aku memperingatkan Oka untuk memutar balik mobil. Tapi Oka tidak menghiraukannya, ia melaju terus semakin kencang.
Aku berteriak-teriak ke arah Oka, tapi ........
- Kau.......kau .......kau bukan Oka ! , aku menjerit.
Oka sudah berubah, wajahnya perlahan berubah.
Aku berteriak, tapi suaraku seperti tersekat, tidak keluar.

- Sam ….! Sam…! Bangun ….! Disertai gedoran di pintu.
Aku tersentak bangun. Mimpi buruk ! Bajuku basah dengan keringat. Rupanya feri sudah sampai di Gilimanuk. Oka menggedor pintu, tak tahu kenapa pintu mobil terkunci. Aku membuka pintu.
- Ada apa Sam ?, Oka bertanya padaku, sambil menyodorkan sebuah harian lokal terbitan beberapa hari lalu. Bacalah !

Jember.
Sebuah SPBU di dekat Kalibaru, meledak dan terbakar menyusul serbuan sekelompok warga yang marah. Kejadian ini dipicu dengan peristiwa tabrak lari yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Peristiwa tabrak lari itu sendiri terjadi 300 meter sebelum SPBU tsb dari arah Sempalan. Korbannya
seorang warga setempat. Lokasi kejadian berada di tengah hutan, jauh dari pemukiman penduduk. Pelaku tabrak lari diduga mengendarai mobil jenis Jip Kemudian berkembang isu bahwa pelaku bersembunyi di SPBU tsb, menyebabkan warga yang marah, lalu datang menyerbu SPBU tsb. Hal itu berakibat fatal, SPBU tsb meledak dan terbakar. Korban tewas 2 orang dan 5 orang luka-luka. Warga berhasil dibubarkan oleh satuan Kepolisian yang datang dari Jember dan beberapa orang ditahan untuk dimintai keterangan.

Aku tertegun membacanya, benar-benar menakutkan. Tapi terus terang saja aku masih penasaran. Kenapa harus menimpa kami ? Atau mungkin karena jenis mobil yang kupakai sama. Jenis Jip. Aku semakin penasaran, apalagi ketika memeriksa bemper depan - benar-benar peyok seperti bekas menabrak sesuatu.
Setelah keluar dari feri, kami mencari tempat parkir untuk sarapan.
Ada beberapa warung, kami memilih sarapan ToKil ( soto kikil ) vieuw enaknya. Bahannya : ½ kg kikil dipotong kecil kotak-kotak 4x4 cm. Di bersihkan dan di rebus setengah matang. Untuk kuah : bahan-bahannya seperti ketumbar merica bawang putih secukupnya digerus halus, di rebus. Untuk penyedap rasa pakai kaldu ayam. Kemudian potongan kikil tadi di masukkan ke dalamnya. ToKil siap dihidangkan. Untuk sambal, pakai cabe rawit digerus halus. Semakin pedas semakin enak.
Kalau agak siang sedikit ada menu ayam betutu, vieuw pedas sekali. Semuanya pedas, yang tidak suka pedas boleh mencoba kolak tape singkong. Yang manis kayak pemilik warung. Walaupun pemilik warung ini cantik manis, jangan coba-coba untuk colak colek, suaminya orang Osing cemburonan.
Kami makan diam-diam, tanpa suara.

bersambung

I wish you were here

Sewaktu memandang bulan, pikiranku mengembara, menduga-duga, apa yang dilakukan Mei disana. Ternyata, semakin tinggi dinding pemisah yang kubangun, semakin dalam kerinduanku pada Mei.

I wish you were here.
We are just two lost souls swimming in a fish bowl, year after year.
Running over the same old ground.
What have we found, the same old fears.
I wish, I wish you were here.

Gambar Mei mulai terpasang disana.
Menjawab pikiranku, Sedang apa lagi kalau tidak sedang berduaan dengan Rif. Mencibirkan mulut ke arahku, bye bye Sam, kemudian berbalik,
berjalan mengandeng mesra tangan Rif.

Gambar Ina muncul menggantikan.
Mata yang galak menatapku curiga. Bibirnya terkatub rapat, garis bibirnya tegas. Tanpa mengucapkan sepatah katapun aku tahu, suasana hatinya.
Sedang memikirkan Mei ya, kata-katanya seperti anak panah Robin Hood,
telak mengenai jantungku.

Mati aku !

colour my world

As time goes on
I realize
Just what you mean
To me
And now
Now that you're near
Promise your love
That I've waited to share
And dreams
Of our moments together
Color my world with hope of loving you.......

koleksi album claro seri F

376
Family
Song For Me
377
Family
Anyway
378
Family
Fearless
379
Family
Bandstand
380
Fantasy (US)
Fantasy
381
Fantasy (UK)
Paint A Picture
382
Fantasy (UK)
Beyond The Beyond
383
Far East Family Band
The Cave - Down To The Earth
384
Far East Family Band
Nipponjin
385
Far East Family Band
Parallel World / Far Out
386
Fat
Fat
387
Fat Mattress
Magic Forest - Anthology 2 CD
388
Faust
Faust / So far
389
Ferris
Ferris
390
Fields (US)
Fields
391
Fields
Fields
392
Fire
Could You Understand Me
393
Five Day Rain
Five Day Rain
394
Fleetwood Mac
Greatest Hits
395
Fleetwood Mac
Best Of
396
Fleetwood Mac
Future Games
397
Fleetwood Mac
Kiln House
398
Flied Egg
Dr Siegelds Shooting Machine
399
Flied Egg
Good Bye
400
Flock
Best Of
401
Flock
Flock
402
Flock
Dinausaur Swamps
403
Flower Traveling Band
With Kuni
404
Flower Traveling Band
Anywhere
405
Flower Traveling Band
Satori
406
Flower Traveling Band
Make Up
407
Flower Traveling Band
Made In Japan
408
Focus
In And Out
409
Food Brain
Bansan - Social Gathering
410
Fotomaker
Fotomaker
411
Fraction
Moon Blood
412
Frank Zappa
Freak Out
413
Frank Zappa
Hot Rats
414
Frank Zappa
Chunga's Revenge
415
Frank Zappa
The Best Of
416
Frantic
Frantic
417
Fred
Fred
418
Freddy Lindquist
Menu
419
Free
The Best Of
420
Free
Fire And Water
421
Free
Highway
422
Freedom
Freedom
423
Freedom
At Last
424
Freedom
Through The Years.
425
Freedom
More Than A Word
426
Freedom Children
Galactic Vibes
427
Freedom Children
Astra
428
Freedom Children
Battle Hymn Of Broken Hearted Horde
429
Freeport
Freeport
430
Fresh Blueberry Pancake
Heavy
431
Frijid Pink
Frijid Pink
432
Frijid Pink
Defrosted
433
Frijid Pink
Earth Omen
434
Frijid Pink
All Pink Inside
435
Frost
Frost Music
436
Frost
Rock And Roll Music
437
Frost
Through The Eyes Of Love
438
Frumpy
All Will Change
439
Frumpy
No. 2
440
Frumpy
By The Way
441
Frumpy
Live 1972 2 CD
442
Frumpy
Live 1995
443
Fuse
Fuse
444
Fuzzy Duck
Fuzzy Duck

koleksi album claro seri E

323
Eagle
The Very Best Of
324
Earth And Fire
Earth And Fire
325
East Of Eden
Mercator Project
326
East Of Eden
Snafu
327
East Of Eden
East Of Eden
328
East Of Eden
Jig A Jig
329
Eberhard Schoener
Bali Agung
330
Edgar Winter + Rick Derringer
Edgar Winter + Rick Derringer
331
Edge
Edge
332
Eela Craig
Symphonic Of Rock 2 CD
333
Edi Hardin + Roger Glover
Wizard Convention + The Butterfly Ball
334
Edi Hardin
Wizard Conventions 2 CD
335
Egg
Egg
336
Egg
The Polite Force
337
Egg
The Civil Surface
338
Eiliff
Eiliff
339
Electric Flag
A Long Time Comin'
340
Electric Food
Electric Food / Flash
341
Electric Light Orchestra
All Over The World - Very Best Of
342
Electric Sandwich
Electric Sandwich
343
Elias Hulk
Elias Hulk
344
ELF
Carolina county Ball
345
ELF
Trying To Burn The Sun
346
Eloy
The Best Of - Early Days 1972 - 1975
347
Eloy
The Best Of - The Prime 1976 - 1979
348
Embryo
Opal
349
Embryo
Surfing
350
Emergency
Emergency
351
Emergency
Get Out To The Country
352
Emergency
Entrance
353
Emerson Lake And Palmer
Emerson Lake And Palmer
354
Emerson Lake And Palmer
Works Volume 1
355
Emerson Lake And Palmer
Works Volume 2
356
Emerson Lake And Powell
Emerson Lake And Powell
357
England
England
358
England
Garden Shed
359
Epitaph
Epitaph
360
Epitaph
Stop, Look And Listen
361
Epitaph
Outside The law
362
Epsilon
Epsilon / Move On
363
Eric Burdon And The Animals
Eric Burdon And The Animals
364
Eric Burdon And War
Declared War
365
Eric Burdon And War
Love Is All Around
366
Eric Clapton
Eric Clapton
367
Eric Clapton
From The Cradle
368
Eric Clapton
Trilogy - Three Classic Album 3 CD
369
Eric Clapton
461 Ocean Boulevard / Slow Hand
370
Eric Clapton
Complete Album
371
Eric Clapton / Steve Winwood
Live - From Madison Square Garden 2 CD
372
Esperanto
Danse Macabre / Last Tango
373
Eulenspygel
Eulenspygel'2
374
Eulenspygel
Ausschuss
375
Exit
Exit