Pagi itu, suasana balai desa Cepit di kaki gunung Sumbing tampak ramai. Sedang berlangsung sidang adat yang dipimpin langsung oleh pak Kades. Pagi itu salah seorang penduduknya yaitu Cinderela akan diadili sehubungan dengan tuduhan serius dari ibu tiri dan saudara-saudara tirinya.
Cinderela dituduh telah mencuri sepatu kaca milik mereka.
- Coba kau ceriterakan kronologisnya itu, ibu tiri Cinderela, kata pak Kades.
- Begini ceriteranya, ibu tiri Cinderela mulai berceritera.
- Pada jaman dahulu kala kira-kira 40 tahun yang lalu di sebuah kota bernama Parakan lahir seorang bayi perempuan yang cantik sekali, yaitu aku sendiri, pak Kades.
Ibu tiri Cinderela menunjuk dirinya sendiri sambil mengedip-ngedipkan mata genitnya pada pak Kades.
- Pada waktu itu kami hidup serba berkecukupan, walaupun ayah hanya seorang mandor perkebunan tembakau di Temanggung. Masa kecilku ….
- Stop…stop…ibu tiri Cinderela, tidak usah ceritera mengenai asal usulmu, tapi ceriterakan kronologis pencurian sepatu kaca itu saja, pak Kades memotong ceritera ibu tiri Cinderela sambil geleng-geleng kepala.
- Lha kalau sampeyan ceritera dari mulai jaman dulu itu, sampai kapan selesai sidang adat ini, bisa-bisa 3 hari 3 malam.
- Hu………….h, para penduduk yang lain yang mengikuti sidang adat ini mencemooh.
- Baik, baik, sahut ibu tiri Cinderela agak gusar karena ceriteranya dipotong dan juga karena dicemooh oleh penduduk yang lain.
- Kami pada waktu Muludan beli 2 pasang sepatu kaca itu di pasar Klewer di Jogja Kebetulan ada discount besar-besaran. Beli satu dapat dua. Beli dua dapat tiga. Makan berempat hanya bayar bertiga. Jadi kalau makan berempat puluh hanya bayar bertiga puluh.
Ketika pak Kades mulai mengerutkan dahinya, ibu tiri Cinderela kembali ke alur ceriteranya lagi.
- Kemudian pada waktu Pangeran mengadakan sayembara siapa yang mempunyai pasangan dari sepatu kaca yang ditemukannya pada waktu pesta ulang tahunnya, Cinderela telah mencuri sepatu-sepatu kaca itu, ceritera ibu tiri Cinderela.
- Tidak benar….tidak benar…..pak Kades. Tentu saja Cinderela menyangkal tuduhan ibu tirinya itu.
- Tenang…tenang, sekarang coba kau Cinderela, bagaimana kronologis ceriteramu ? Bagaimana kau memperoleh sepatu kaca itu Cinderela ?, tanya pak Kades.
- Begini pak Kades, saya ini biarpun orang Sumbing sini tapi nggak sumbing khan ?
- Kalau itu sih aku sudah tahu, tidak usah kau ceritera.
- Kami semua penduduk sini sudah tahu kalau bibirmu itu seksi tidak sumbing. Cuma kami…he…he…he… belum tahu bagaimana rasanya, soalnya belum pernah mencoba, pak Kades mulai genit.
- Ha…ha…..ha…..para penduduk yang lain menertawakan omongan genit pak Kades. Yang agak tendensius itu.
Cinderela tidak mengacuhkan omongan pak Kades. Dicium pak Kades ? Amit-amit ih..ih….hiy….
- Selama ini aku bekerja sebagai tour leader para pendaki gunung yang hendak mendaki gunung Sumbing dan gunung Sundoro, pak Kades, Cinderelapun berceritera.
- Kemudian aku mulai berkenalan dan bersahabat dengan para tikus dan tupai di gunung tepatnya di Pasar Demit, dan untuk menghadiri pesta ulang tahun Pangeran, aku dibuatkan sepatu kaca itu oleh mereka.
- Ha…ha…..ha…..para penduduk yang lain menertawakan ceritera Cinderela itu.
- Mana mungkin pak Kades, yang mboten-mboten saja Cinderela ini.
- Masak tikus bisa bikin sepatu kaca, kata mereka mencemooh Cinderela. Huhhhhhhhhhhh…………..
- Pak Kades, Cinderela ini terlalu banyak membaca ceritera-ceritera Hans Christian Andersen, jadi dia hanya berkhayal saja.
- Betul pak Kades, dia ini terbawa ceritera-ceritera Hans Christian Andersen saja. Ia mengarang-ngarang saja ceritera asal usul sepatu kacanya itu, tukas ibu tiri Cinderela.
- Betul pak Kades. Betul pak Kades, saudara-saudara tiri Cinderela ikut menimpali. Malah sekarang Cinderela itu hamil pak Kades.
- Ha…h !..........para penduduk yang lain terkaget-kaget.
- Tidak benar pak Kades. Tidak benar pak Kades, Cinderela tentu saja membantah keras tuduhan baru itu.
- Yang hamil itu Lia pacar Ariel Peter Pan, pak Kades.
- Ha…ha…..ha….para penduduk yang lain sekali lagi menertawakan ceritera Cinderela itu.
- Peter Pan itu khan cuma film buatan Dream Work pak Kades, mana bisa menghamili Lia, kata mereka.
- Betul pak Kades, Cinderela itu juga terlalu sering menonton film Dream Work, Walt Disney dan yang lain. Peter Pan itu khan dari Never Land, mana mungkin menghamili Lia di Semarang, ibu tiri Cinderela bersemangat menyudutkan Cinderela.
- Tenang…tenang….tenang, pak Kades berusaha menenangkan suasana balai desa yang mulai gaduh.
- Bagaimana ini pak Carik ?, pak Kades berbisik pada pak Carik.
Pak Kades ini biar bagaimanapun juga tidak tega untuk ikut menghukum Cinderela. Karena biarpun sudah punya 3 istri, siapa tahu Cinderela mau jadi istri ke 4 nya. Tahu-tahu Tempe-tempe. Siapa tahu he-he-he.
Pak Kades sontoloyo ! Bibir sumbing Cinderela itu lho. Salah, salah, bibir seksi Cinderela itu lho. Nggak kukuh deh…..
- Ibu tiri Cinderela, bagaimana mungkin sepatu kaca itu bisa pas pisan sama kaki Cinderela ?, kali ini pak Kades bertanya lagi pada ibu tiri Cinderela.
- Pak Kades, di jaman sekarang ini semua bisa direkayasa, pasti sepatu kaca itu sudah direkayasa menjadi pas ukurannya dengan kaki Cinderela.
- Caranya bagaimana ? Coba Cinderela ukuran sepatumu berapa ?, Tanya pak Kades pada Cinderela.
- 39 pak Kades, jawab Cinderela.
- Kalau kau berdua berapa ukuran sepatumu ?, Tanya pak Kades pada ke dua saudara tiri Cinderela.
- Ukurannya….ukurannya……malu pak Kades, saudara tiri Cinderela malu-malu untuk menjawab.
- Lho, ditanya ukuran sepatu kok malu, kalau ditanya ukuran yang lain itu yang membuat malu. Membuat jengah. Saru !, pak Kades agak gusar.
- Yang kanan 40 yang kiri 41 pak Kades, jawab saudara tiri Cinderela.
- Kalau……kalau ukuran sepatuku….yang kanan 38 eeeh…..yang kiri 40 pak Kades, jawab saudara tiri Cinderela yang satu lagi.
- Kalau ukuran sepatu ku 40 kanan kiri sama pak Kades, ibu tiri Cinderela ikut menjawab.
- Mboh ora takon !.....pak Kades menjadi gusar.
- Ha….ha…..ha….para penduduk yang lain menertawakan ibu tiri Cinderela. Juga menertawakan ukuran sepatu saudara-saudara tiri Cinderela.
- Tenang…tenang….tenang, pak Kades berusaha menenangkan suasana balai desa yang mulai gaduh lagi.
Tak lama kemudian Pangeran datang sambil membawa pasangan sepatu kaca yang jadi masalah itu.
- Pak Kades, dan bapak ibu saderek sekalian, aku memerintahkan padamu, untuk menutup sidang adat ini, karena sesungguhnya Cinderela lah pemilik asli sepatu kaca itu.
- Tapi Pangeran, kenapa anda begitu percaya dan seyakin-yakinnya pada Cinderela ? Tanya pak Kades.
- Begini pak Kades, aku telah lama mengenal Cinderela, Pangeran mulai berceritera.
Beberapa waktu yang lalu aku dan beberapa orang teman merencanakan pendakian 4 musim, yaitu pendakian gunung Sumbing gunung Sundoro gunung Merbabu dan gunung Merapi. Untuk itu aku menghubungi Cinderela untuk mengantar dan menemaniku melakukan perjalanan tersebut. Dan Cinderela bersedia.
Dalam perjalanan itu Cinderela banyak berceritera tentang para sahabatnya di Pasar Demit di dekat puncak Sumbing itu. Si tikus dan si Tupai. Cinderela juga tentang sepatu kaca ini. Nah, pada malam perayaan hari ulang tahunku. Dia datang dibantu para sahabatnya. Dibuatkan sepatu kaca dan kereta kencana.
Kemudian kau tahu pak Kades, bagaimana benih cinta mulai tumbuh di antara kami berdua. Perjalanan pendakian 4 musim itu benar-benar begitu romantis sekali pak Kades.
Sampai kemudian kami melakukan perbuatan yang terlarang itu. Jadi biar bagaimanapun aku tetap akan bertanggung jawab dan akan tetap menikah dengan Cinderela. Seperti yang dilakukan Ariel Peter Pan terhadap Lia pacarnya itu, pak Kades.
Demikianlah sang Pangeran berceritera.
- Jadi bapak ibu lan saderek sekalian, aku sudah beberkan kejadian demi kejadian yang sudah terjadi di antara kami berdua. Jadi urusan sepatu kaca ‘ndak usahlah diperpanjang lagi, kata sang Pangeran.
- Inggih, inggih Pangeran, para penduduk yang lain menerima penjelasan sang Pangeran walaupun terbesit rasa terkejut yang sangat amat. Tapi karena Pangeran mau bertanggung jawab, mereka juga mau menerimanya.
Ibu tiri Cinderela dan saudara-saudara tiri Cinderela tentu saja sangat menyesal.
- Huh……., ‘tuh khan apa ibu bilang, coba dari dulu kau juga rajin naik gunung seperti Cinderela pasti dapat kenalan seorang Pangeran juga, ibu tiri Cinderela bersungut-sungut.
Saudara-saudara tiri Cinderela hanya menangis menyesali nasibnya. Tidak jadi menikah dengan Pangeran. Malah sekarang dicemooh penduduk yang lain karena jadi ketahuan, ukuran sepatunya berbeda antara kiri dan kanan.
- Tapi Pangeran, ada apa denganmu ? ….aku…aku khan tidak hamil…..dan aku tidak pernah berbuat dengan siapapun juga, Cinderela berbisik pada sang Pangeran yang kemudian berdiri mendampinginya.
- Tenang saja, aku juga khan tidak pernah berbuat, sahut Pangeran kalem.
- Baiklah kalau begitu, kata pak Kades.
Iapun segera memutuskan perkara sepatu kaca sudah selesai. Dok ! dok ! dok ! pak Kades mengedokkan palunya ke meja.
- Baiklah, pak Carik, selanjutnya perkara apa , kata pak Kades pada pak Carik
- Eh….ini pak Kades….perkara perebutan tanah warisan antara Bawang Merah dan Bawang Putih, jawab pak Carik.
- Baiklah, silahkan yang bersangkutan dipanggil ke depan. Sudah siang nih, aku mulai lapar, kata pak Kades tak sabar.
Pak Kades juga agak kecewa, tidak bisa mendapatkan istri ke 4.
Sebenarnya ibu tiri Cinderela sudah memberi lampu hijau pada pak Kades untuk memilih saudara-saudara tiri Cinderela saja atau dirinya sendiri. Tapi pak kades mana mau. Wes STW ngono !
- Baiklah, kami panggilkan, Bawang Merah, Bawang Putih, Cabe Keriting setengah kilo, Merica secukupnya, Ayam sepotong, Garam dan Kecap…
- Lho, lho….pak Carik apa-apaan ini, pak Kades memotong.
- Ha….ha…..ha….para penduduk yang lain menertawakan pak Carik.
- Maaf…maaf….maaf….pak Kades…maaf pembaca…ini barusan daftar belanjaan istri kebawa.
- Dasar sontoloyo. Edan tuenaaaaaaan…..!
2006
Sabtu, 03 November 2007
SE7EN SWORD
Namaku Reno. Apa yang ingin kuceriterakan padamu berikut ini adalah sebuah ceritera, yang banyak membuat orang tidak percaya. Ini sebuah ceritera yang kupaksakan terjadi.
Hanya karena sebuah deal dengan seorang penguasa Planet Giant. Jadi terlalu jauh untuk nilai sebuah kebenaran. Tak terlampaui oleh angan-angan yang paling liar sekalipun. Tapi seliar apapun, tetap akan kuceriterakan padamu.
Di puncak Gunung Langit, suatu pagi yang cerah Dodo berkata pada kami.
- Besok pagi, kita akan turun ke Lautan Pasir Bromo, ada sms dari Jaka Seger dan Rara Anteng. Desa Silat Ranu Pane dalam bahaya besar. Orang-orang Mogul akan menghancurkannya.
- Atas dasar apa, mereka akan menghancurkan Desa Silat Ranu Pane ?, tanyaku.
- Apakah kau lupa, kita sudah bersumpah tidak akan bertarung lagi ?, kata Misk.
- Betul juga, bagaimana ini ?, kata yang lain.
- Tindakan Mogul sudah keterlaluan. Mogul sudah menaikkan harga minyak dengan semena-mena. Sekarang akan menghancurkan Desa Silat Ranu Pane, untuk menguasai satu-satunya ladang penghasil minyak terbesar di kawasan ini. Hanya karena, mereka tidak mau ikutan menaikkan harga minyak.
Oh iya, sebelumnya mari kuperkenalkan padamu siapa saja kami – pendukung ceritera ini. Kami adalah para Se7en Swords. Dodo adalah kakak tertua, kemudian aku – Reno, disusul berturut-turut – Misk, Faal, Sole, Laba dan Simn. Sudah lama kami meninggalkan dunia kangouw. Sekarang kami menetap di Gunung Langit.
Keesokan pagi, kami para Se7en Swords sudah bersiap-siap melakukan perjalanan, melalui Penanjakan menyebrangi Lautan Pasir Bromo. Perjalanan yang sungguh-sungguh melelahkan.
Panas terik dari matahari kembar, betul-betul membakar ribuan butir pasir disini. Keringat kami tak sempat lagi menetes, begitu keluar dari pori-pori langsung menguap begitu saja. Pergi menguap tanpa pesan.
Belum lagi jika kami di hadang Badai Dinding Pasir yang maha dahsyat. Setinggi pohon kelapa, yang akan menghancurkan apa saja.
Di Lautan Pasir kami berjalan beriringan. Di tengah sengatan matahari kembar yang cukup terik. Misk mengeluh kepanasan.
Siang ini memang benar-benar terik. Matahari kembar benar-benar melampiaskan hawa panasnya. Seolah-olah kita dapat menceplok mata sapi menjadi telor di atas pasir ini. Persediaan air minum mulai menipis, termasuk minuman kotak dan kaleng yang kami bawa.
Misk tak henti-hentinya minta minum karena kehausan. Walaupun aku sudah mengingatkannya agar tidak terlalu banyak minum, karena akan semakin haus. Tapi ia tidak mau mendengarkanku. Berisik ah !
Perjalanan melintas Lautan Pasir ini masih panjang, masih setengah jalan lagi. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat angin yang berputar. Debu-debu pasir berterbangan. Semakin lama semakin mendekat. Celaka itu Badai Dinding Pasir !
Kami segera mencari perlindungan, cukup sulit juga karena tidak ada tempat untuk berlindung. Aku mengajak Misk melompat masuk ke sebuah celah kali mati. Tapi belum sempat kami bergerak, di kejauhan, tampak 2 orang penunggang kuda sedang dikejar-kejar segerombolan pasukan berkuda.
- Ah, itu Jaka Seger dan Rara Anteng, kata Dodo. Mereka di kejar pasukan Mogul.
- Cepat kita harus menyelamatkannya.
- Di tengah badai begini ?, aku mengeluh, sambil menghalangi mata dari butir pasir berbisik.
Pasir berbisik ? itu judul film. Pasir disini berterbangan liar boo !.
Kami segera menyongsong Badai Dinding Pasir, untuk menyelamatkan Jaka Seger dan Rara Anteng.
- Kenapa kita tidak menolong Jaka Tarub saja, mencuri selendang Nawang Wulan ?, Simn anggota termuda mengeluh. Kasihan matanya kelilipan.
Kami tidak menghiraukannya.
- Buat formasi…..! Reno Laba dan Simn ! lindungi Jaka Seger dan Rara Anteng. Yang lain ikut aku, menghadang pasukan Mogul, Dodo memberi instruksi.
- Siap laksanakan…… !, kataku.
Aku dan Laba dan Simn segera melindungi dan mengamankan Jaka Seger dan Rara Anteng. Dodo dan yang lain menghadang pasukan Mogul. Aku mengajak yang lain mengungsi di celah-celah kali mati, menghindari Badai Dinding Pasir.
Sementara itu Dodo dan yang lain berhadapan dengan Mogul dan pasukannya.
- Jadi kaliankah Se7en Swords yang terkenal itu ? , Tanya Mogul menyelidik.
- Benar, kami minta kau tidak menganggu Jaka Seger dan Rara Anteng dan pengikutnya lagi, jawab Dodo tenang.
Di belakangnya Faal dan Sole dan Misk berdiri tegang. Misk yang baru pertama kali berhadapan dengan Mogul agak gemetaran. Gagang pedangnya di genggam erat-erat.
- Hahahaha, bagus, bagus, sekarang baru aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kata Mogul, matanya liar, memandang Dodo Faal Sole dan Misk bergantian. Tapi jelas terlihat, Mogul hampir tak berkedip menatap Misk.
- Bagaimana mungkin aku akan melepaskan Jaka Seger dan Rara Anteng, dia sudah menentang keputusanku – menaikan harga minyak. Dan yang paling berat, dia sudah mengambil istriku – Rara Anteng, kata Mogul. Kecuali …..
- Kecuali apa ?, Tanya Dodo dengan hati-hati, ia betul-betul memperhatikan setiap gerakan dan ucapan Mogul.
Ia tahu Mogul disamping berbahaya juga agak auban.
- Kecuali kau menyerahkan Misk sebagai pengganti Rara Anteng, hahahahahaha…….. kata Mogul sambil mencoba menyerang ke arah Misk.
Misk cepat bereaksi, Dodo ikut membantu. Tapi hanya sebentar, Mogul cepat kembali mundur. Tenyata ia hanya mencoba-coba saja kekuatan lawan. Mogul kemudian mengajak pasukannya mundur.
- Aku hanya ingin tahu, apakah ilmu yang kau miliki setara dengan kecantikanmu, hahahaahha……., teriak Mogul sambil menjauh.
- Kurang ajar ……, Misk ingin megejar.
- Jangan gegabah, kau bukan tandinganya, kata Dodo mencegahnya. Kita kembali.
Akhirnya seperti semua kebanyakan badai, baik itu Badai Katarina di timur atau Badai Tsunami di barat, pasti berlalu. Demikian juga dengan Badai Dinding Pasir pasti berlalu. Setelah aman, aku mengajak yang lain keluar dari tempat persembunyian. Wajah kami semua belepotan pasir.
Kami melanjutkan perjalanan. Kami hampir mendekati tebing, dimana ada jalan setapak naik ke atas. Kami menyebutnya jalan zig zag. Jalan setapak ini merupakan jalan pintas dan di atas tebing ini nanti akan bertemu dengan jalan desa ke arah Ranu Pane.
Belum sempat kami berjalan mendekati kaki tebing jalan zig zag, Misk mendadak roboh pingsan. Kami betul-betul terkejut, masih untung Sole yang berdiri di sampingnya, bisa meraih tubuhnya sehingga tidak sampai terjatuh ke tanah. Perlahan Sole membaringkannya di tanah.
- Misk, Misk, Dodo menepuk-nepuk pipinya berusaha menyadarkan.
- Biar aku yang menyadarkannya, Rara Anteng ikut membantu.
Rara Anteng menepuk-nepuk pipi Misk lagi untuk menyadarkannya. Tapi Misk bergeming. Kami mulai dicekam rasa panik dan ketakutan.
- Celaka …! Misk terkena racun Ikan Asin Laut Tawar, rupanya tadi Mogul menyebarkan racun itu. Kita terpaksa minta penawarnya pada Mogul. Untuk sementara, bantu aku menyalurkan hawa murni ke tubuh Misk, kata Dodo.
- Wah kalau terjadi apa-apa, kita bisa digantung guru, kataku agak bingung.
Dodo segera duduk bersila, tubuh Misk di dudukan di depannya, membelakanginya. Kemudian Dodo segera menyalurkan hawa murninya, melalui ke dua tangannya yang ditempelkan di punggung Misk. Aku duduk di belakang Dodo, melakukan hal yang sama. Disusul Faal. Begitu juga Sole, di belakangnya duduk Laba.
- Sole, ‘napa di punggungmu ada peta sulawesi ?, tanya Laba.
- Peta ? itu tato ikan arwana toloy ……, jawab Sole.
- Bukan, itu lele dumbo hik hik hik ……, Simn nyeletuk.
Malam ini bulan kembar bersinar purnama. Terang banget. Sinarnya menghalau semua bintang. Udara malam menusuk tulang. Dingin banget.
- Sebenarnya aku mau ngasih tau, aku kenal seorang tabib di Desa Sehat Pasar Besar di kaki Gunung Kawi. Tapi makhluk nya agak aneh. Kera Ngalam. Angin-anginan. Satu waktu dia mau menolong orang tanpa pamrih. Di lain waktu, ia sama sekali tidak mau di temui siapa saja. Masuk angin-lah, buang angin-lah. Jadi angin-anginan, kata Faal.
- Namanya Tabib Sas, dia sakti mandra guna, lanjutnya.
- Tidak ada salahnya, kau coba, kata Dodo.
Faal berpikir sejenak.
- Baiklah, aku akan coba sms Tabib Sas, mudah-mudahan ia punya obat penawarnya, kata Faal.
- Nama obat penawarnya : Bandeng Asap Duri Lunak, kata Dodo pada Faal.
Faal cepat-cepat sms dan syukur alhamdulilah, temannya tabib Sas ini, termasuk orang yang proaktif dan koporatif. Tidak sampai 3 jam, kiriman obatnya sudah datang. Masih ditambah Buah Semangka Tanpa Biji. Untuk cuci mulut pesannya. Jadi Misk bisa cepat-cepat tertolong.
- Bagus, jadi besok kita bisa menggempur Mogul dan anak buahnya lagi, kata Dodo.
- Besok, kita siapkan formasi Do Re Mi untuk menggempur Mogul dan anak buahnya, lanjutnya.
Formasi Do Re Mi ini sudah cukup popular terutama bagi penggemar Sounds Of Music. Nama Do Re Mi sendiri diambil dari nama depan inisial nama kami. Do untuk Dodo. Re untuk Reno. Mi untuk Misk. Fa untuk Faal. Sol untuk Sole. La untuk Laba. Si untuk simn. Jadi DO RE MI FA SOL LA SI……… Gatot kalo mau ikutan ambil suara - mulutnya jangan lebar-lebar, entar kemasukan garputala gitu loh.
Pagi hari sebelum ayam jago berkokok, sebelum matahari kembar bangkit dari peraduannya. Kami para Se7en Swords sudah terlibat dalam pertarungan melawan Mogul dan anak buahnya. Tapi pada kenyataannya Mogul benar-benar tangguh, apalagi anak buahnya juga benar-benar tangguh. Serangan kombinasi Do Re Mi kami beberapa kali dapat di patahkan.
Ilmu Batok Kelapa Terbang senjata Mogul benar-benar dahsyat dan mematikan. Batok kelapa tersebut begitu cepat sehingga dapat memenggal kepala musuh tanpa suara. Bahkan saking dahsyatnya, sampai musuh tidak menyadari kalau kepalanya sudah terpisah dari badannya. Beberapa kali serangan kami dipatahkan dengan senjata tersebut. Beberapa kali juga kepala kami nyaris terkena serangannya.
Begitu juga jurus Kursi Penghisap Sukma yang mampu menghisap sukma musuh-musuhnya tanpa ampun. Begitu musuh jatuh terduduk di kursinya, maka tanpa ampun lagi, sukmanya akan dihisap abis-abisan. Sehingga kalau sudah duduk, lupa berdiri.
Konon, kursi tersebut terbuat dari kayu Jati Kawat Balung Wesi. Jadi benar-benar keras. Pedang kami tak bisa memutusnya. Begitu juga Chain Saw yang kami pinjem dari Kawanan Penebang Liar.
Akhirnya Dodo mengubah setrategi pertarungan.
- Kita pergunakan formasi menyerang Jie Sam Soe Fatsal 9, kata Dodo.
- Tapi kita hanya bertujuh, jawab Laba.
- Siapa bilang …., Jaka Seger dan Rara Anteng menimpali. Kami siap membantu.
- Bagus kalau begitu.
Yang dimaksud dengan formasi penyerangan Jie Sam Soe Fatsal 9 adalah formasi penyerangan : 4 3 2 - kita benar-benar mengandalkan 2 penyerang kembar di depan. Aku dan Dodo. Formasi ini jarang kami lakukan kecuali terpaksa. Itupun kalau kami bisa mendapatkan 2 pemain bayaran.
Pagi hari sebelum ayam jago berkokok, sebelum matahari kembar bangkit dari peraduannya. Kami para Se7en Swords sudah terlibat dalam pertarungan melawan Mogul dan anak buahnya. Tapi pada kenyataannya Mogul benar-benar tangguh, apalagi anak buahnya juga benar-benar tangguh. Serangan kombinasi Do Re Mi kami beberapa kali dapat di patahkan.
Sekarang kami bersiap-siap melakukan kick and rush, melakukan serangan balik dengan formasi Jie Sam Soe Fatsal 9. Dan ini benar-benar efektif. Mogul dan anak buahnya benar-benar kewalahan. Beberapa kali Simn Laba Jaka Seger Rara Anteng yang merupakan pemain lapis belakang, ikut naik membantu menyerang. Dan akhirnya Mogul dan anak buahnya terkalahkan.
Akibat dari pertarungan yang maha dahsyat itu, menyebabkan puncak Bromo hancur lebur jadi debu. Menyisakan sebuah kawah yang besar. Mogul dan anak buahnya terkubur ke dasar kawah. Senjata andalan Mogul, Batok Kelapa Terbang, berubah menjadi gunung. Begitu juga Kursi Penghisap Sukma miliknya ikutan berubah menjadi gunung juga.
- Aduh kasihan sekali ya , kata Rara Anteng pada Misk.
- Ya hik hik hik hik….., Misk menangis sesenggukan.
- Aku berjanji walaupun Mogul ini jahat tenan, tetapi karena ia bertarung sungguh-sungguh secara kesatria, maka nanti aku dan seluruh rakyatku akan memberikan upeti berupa hasil bumi ke kawah bromo sebagai rasa hormat kami.
- Aku setuju, kita serahkan setiap bulan ke 10 – kesada, Jaka Seger setuju.
- Baguslah kalau begitu. Jadi sekarang kita bisa membantu Jaka Tarub untuk mencuri selendang Nawang Wulan, kata Simn belum menyerah.
- TIDAAAAAAAAAK ……..! jawab kami.
- Sekali ini aja, please,……. Simn pantang menyerah.
- Ya boleh ya ya ……..
10 oktober 2005
Hanya karena sebuah deal dengan seorang penguasa Planet Giant. Jadi terlalu jauh untuk nilai sebuah kebenaran. Tak terlampaui oleh angan-angan yang paling liar sekalipun. Tapi seliar apapun, tetap akan kuceriterakan padamu.
Di puncak Gunung Langit, suatu pagi yang cerah Dodo berkata pada kami.
- Besok pagi, kita akan turun ke Lautan Pasir Bromo, ada sms dari Jaka Seger dan Rara Anteng. Desa Silat Ranu Pane dalam bahaya besar. Orang-orang Mogul akan menghancurkannya.
- Atas dasar apa, mereka akan menghancurkan Desa Silat Ranu Pane ?, tanyaku.
- Apakah kau lupa, kita sudah bersumpah tidak akan bertarung lagi ?, kata Misk.
- Betul juga, bagaimana ini ?, kata yang lain.
- Tindakan Mogul sudah keterlaluan. Mogul sudah menaikkan harga minyak dengan semena-mena. Sekarang akan menghancurkan Desa Silat Ranu Pane, untuk menguasai satu-satunya ladang penghasil minyak terbesar di kawasan ini. Hanya karena, mereka tidak mau ikutan menaikkan harga minyak.
Oh iya, sebelumnya mari kuperkenalkan padamu siapa saja kami – pendukung ceritera ini. Kami adalah para Se7en Swords. Dodo adalah kakak tertua, kemudian aku – Reno, disusul berturut-turut – Misk, Faal, Sole, Laba dan Simn. Sudah lama kami meninggalkan dunia kangouw. Sekarang kami menetap di Gunung Langit.
Keesokan pagi, kami para Se7en Swords sudah bersiap-siap melakukan perjalanan, melalui Penanjakan menyebrangi Lautan Pasir Bromo. Perjalanan yang sungguh-sungguh melelahkan.
Panas terik dari matahari kembar, betul-betul membakar ribuan butir pasir disini. Keringat kami tak sempat lagi menetes, begitu keluar dari pori-pori langsung menguap begitu saja. Pergi menguap tanpa pesan.
Belum lagi jika kami di hadang Badai Dinding Pasir yang maha dahsyat. Setinggi pohon kelapa, yang akan menghancurkan apa saja.
Di Lautan Pasir kami berjalan beriringan. Di tengah sengatan matahari kembar yang cukup terik. Misk mengeluh kepanasan.
Siang ini memang benar-benar terik. Matahari kembar benar-benar melampiaskan hawa panasnya. Seolah-olah kita dapat menceplok mata sapi menjadi telor di atas pasir ini. Persediaan air minum mulai menipis, termasuk minuman kotak dan kaleng yang kami bawa.
Misk tak henti-hentinya minta minum karena kehausan. Walaupun aku sudah mengingatkannya agar tidak terlalu banyak minum, karena akan semakin haus. Tapi ia tidak mau mendengarkanku. Berisik ah !
Perjalanan melintas Lautan Pasir ini masih panjang, masih setengah jalan lagi. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat angin yang berputar. Debu-debu pasir berterbangan. Semakin lama semakin mendekat. Celaka itu Badai Dinding Pasir !
Kami segera mencari perlindungan, cukup sulit juga karena tidak ada tempat untuk berlindung. Aku mengajak Misk melompat masuk ke sebuah celah kali mati. Tapi belum sempat kami bergerak, di kejauhan, tampak 2 orang penunggang kuda sedang dikejar-kejar segerombolan pasukan berkuda.
- Ah, itu Jaka Seger dan Rara Anteng, kata Dodo. Mereka di kejar pasukan Mogul.
- Cepat kita harus menyelamatkannya.
- Di tengah badai begini ?, aku mengeluh, sambil menghalangi mata dari butir pasir berbisik.
Pasir berbisik ? itu judul film. Pasir disini berterbangan liar boo !.
Kami segera menyongsong Badai Dinding Pasir, untuk menyelamatkan Jaka Seger dan Rara Anteng.
- Kenapa kita tidak menolong Jaka Tarub saja, mencuri selendang Nawang Wulan ?, Simn anggota termuda mengeluh. Kasihan matanya kelilipan.
Kami tidak menghiraukannya.
- Buat formasi…..! Reno Laba dan Simn ! lindungi Jaka Seger dan Rara Anteng. Yang lain ikut aku, menghadang pasukan Mogul, Dodo memberi instruksi.
- Siap laksanakan…… !, kataku.
Aku dan Laba dan Simn segera melindungi dan mengamankan Jaka Seger dan Rara Anteng. Dodo dan yang lain menghadang pasukan Mogul. Aku mengajak yang lain mengungsi di celah-celah kali mati, menghindari Badai Dinding Pasir.
Sementara itu Dodo dan yang lain berhadapan dengan Mogul dan pasukannya.
- Jadi kaliankah Se7en Swords yang terkenal itu ? , Tanya Mogul menyelidik.
- Benar, kami minta kau tidak menganggu Jaka Seger dan Rara Anteng dan pengikutnya lagi, jawab Dodo tenang.
Di belakangnya Faal dan Sole dan Misk berdiri tegang. Misk yang baru pertama kali berhadapan dengan Mogul agak gemetaran. Gagang pedangnya di genggam erat-erat.
- Hahahaha, bagus, bagus, sekarang baru aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kata Mogul, matanya liar, memandang Dodo Faal Sole dan Misk bergantian. Tapi jelas terlihat, Mogul hampir tak berkedip menatap Misk.
- Bagaimana mungkin aku akan melepaskan Jaka Seger dan Rara Anteng, dia sudah menentang keputusanku – menaikan harga minyak. Dan yang paling berat, dia sudah mengambil istriku – Rara Anteng, kata Mogul. Kecuali …..
- Kecuali apa ?, Tanya Dodo dengan hati-hati, ia betul-betul memperhatikan setiap gerakan dan ucapan Mogul.
Ia tahu Mogul disamping berbahaya juga agak auban.
- Kecuali kau menyerahkan Misk sebagai pengganti Rara Anteng, hahahahahaha…….. kata Mogul sambil mencoba menyerang ke arah Misk.
Misk cepat bereaksi, Dodo ikut membantu. Tapi hanya sebentar, Mogul cepat kembali mundur. Tenyata ia hanya mencoba-coba saja kekuatan lawan. Mogul kemudian mengajak pasukannya mundur.
- Aku hanya ingin tahu, apakah ilmu yang kau miliki setara dengan kecantikanmu, hahahaahha……., teriak Mogul sambil menjauh.
- Kurang ajar ……, Misk ingin megejar.
- Jangan gegabah, kau bukan tandinganya, kata Dodo mencegahnya. Kita kembali.
Akhirnya seperti semua kebanyakan badai, baik itu Badai Katarina di timur atau Badai Tsunami di barat, pasti berlalu. Demikian juga dengan Badai Dinding Pasir pasti berlalu. Setelah aman, aku mengajak yang lain keluar dari tempat persembunyian. Wajah kami semua belepotan pasir.
Kami melanjutkan perjalanan. Kami hampir mendekati tebing, dimana ada jalan setapak naik ke atas. Kami menyebutnya jalan zig zag. Jalan setapak ini merupakan jalan pintas dan di atas tebing ini nanti akan bertemu dengan jalan desa ke arah Ranu Pane.
Belum sempat kami berjalan mendekati kaki tebing jalan zig zag, Misk mendadak roboh pingsan. Kami betul-betul terkejut, masih untung Sole yang berdiri di sampingnya, bisa meraih tubuhnya sehingga tidak sampai terjatuh ke tanah. Perlahan Sole membaringkannya di tanah.
- Misk, Misk, Dodo menepuk-nepuk pipinya berusaha menyadarkan.
- Biar aku yang menyadarkannya, Rara Anteng ikut membantu.
Rara Anteng menepuk-nepuk pipi Misk lagi untuk menyadarkannya. Tapi Misk bergeming. Kami mulai dicekam rasa panik dan ketakutan.
- Celaka …! Misk terkena racun Ikan Asin Laut Tawar, rupanya tadi Mogul menyebarkan racun itu. Kita terpaksa minta penawarnya pada Mogul. Untuk sementara, bantu aku menyalurkan hawa murni ke tubuh Misk, kata Dodo.
- Wah kalau terjadi apa-apa, kita bisa digantung guru, kataku agak bingung.
Dodo segera duduk bersila, tubuh Misk di dudukan di depannya, membelakanginya. Kemudian Dodo segera menyalurkan hawa murninya, melalui ke dua tangannya yang ditempelkan di punggung Misk. Aku duduk di belakang Dodo, melakukan hal yang sama. Disusul Faal. Begitu juga Sole, di belakangnya duduk Laba.
- Sole, ‘napa di punggungmu ada peta sulawesi ?, tanya Laba.
- Peta ? itu tato ikan arwana toloy ……, jawab Sole.
- Bukan, itu lele dumbo hik hik hik ……, Simn nyeletuk.
Malam ini bulan kembar bersinar purnama. Terang banget. Sinarnya menghalau semua bintang. Udara malam menusuk tulang. Dingin banget.
- Sebenarnya aku mau ngasih tau, aku kenal seorang tabib di Desa Sehat Pasar Besar di kaki Gunung Kawi. Tapi makhluk nya agak aneh. Kera Ngalam. Angin-anginan. Satu waktu dia mau menolong orang tanpa pamrih. Di lain waktu, ia sama sekali tidak mau di temui siapa saja. Masuk angin-lah, buang angin-lah. Jadi angin-anginan, kata Faal.
- Namanya Tabib Sas, dia sakti mandra guna, lanjutnya.
- Tidak ada salahnya, kau coba, kata Dodo.
Faal berpikir sejenak.
- Baiklah, aku akan coba sms Tabib Sas, mudah-mudahan ia punya obat penawarnya, kata Faal.
- Nama obat penawarnya : Bandeng Asap Duri Lunak, kata Dodo pada Faal.
Faal cepat-cepat sms dan syukur alhamdulilah, temannya tabib Sas ini, termasuk orang yang proaktif dan koporatif. Tidak sampai 3 jam, kiriman obatnya sudah datang. Masih ditambah Buah Semangka Tanpa Biji. Untuk cuci mulut pesannya. Jadi Misk bisa cepat-cepat tertolong.
- Bagus, jadi besok kita bisa menggempur Mogul dan anak buahnya lagi, kata Dodo.
- Besok, kita siapkan formasi Do Re Mi untuk menggempur Mogul dan anak buahnya, lanjutnya.
Formasi Do Re Mi ini sudah cukup popular terutama bagi penggemar Sounds Of Music. Nama Do Re Mi sendiri diambil dari nama depan inisial nama kami. Do untuk Dodo. Re untuk Reno. Mi untuk Misk. Fa untuk Faal. Sol untuk Sole. La untuk Laba. Si untuk simn. Jadi DO RE MI FA SOL LA SI……… Gatot kalo mau ikutan ambil suara - mulutnya jangan lebar-lebar, entar kemasukan garputala gitu loh.
Pagi hari sebelum ayam jago berkokok, sebelum matahari kembar bangkit dari peraduannya. Kami para Se7en Swords sudah terlibat dalam pertarungan melawan Mogul dan anak buahnya. Tapi pada kenyataannya Mogul benar-benar tangguh, apalagi anak buahnya juga benar-benar tangguh. Serangan kombinasi Do Re Mi kami beberapa kali dapat di patahkan.
Ilmu Batok Kelapa Terbang senjata Mogul benar-benar dahsyat dan mematikan. Batok kelapa tersebut begitu cepat sehingga dapat memenggal kepala musuh tanpa suara. Bahkan saking dahsyatnya, sampai musuh tidak menyadari kalau kepalanya sudah terpisah dari badannya. Beberapa kali serangan kami dipatahkan dengan senjata tersebut. Beberapa kali juga kepala kami nyaris terkena serangannya.
Begitu juga jurus Kursi Penghisap Sukma yang mampu menghisap sukma musuh-musuhnya tanpa ampun. Begitu musuh jatuh terduduk di kursinya, maka tanpa ampun lagi, sukmanya akan dihisap abis-abisan. Sehingga kalau sudah duduk, lupa berdiri.
Konon, kursi tersebut terbuat dari kayu Jati Kawat Balung Wesi. Jadi benar-benar keras. Pedang kami tak bisa memutusnya. Begitu juga Chain Saw yang kami pinjem dari Kawanan Penebang Liar.
Akhirnya Dodo mengubah setrategi pertarungan.
- Kita pergunakan formasi menyerang Jie Sam Soe Fatsal 9, kata Dodo.
- Tapi kita hanya bertujuh, jawab Laba.
- Siapa bilang …., Jaka Seger dan Rara Anteng menimpali. Kami siap membantu.
- Bagus kalau begitu.
Yang dimaksud dengan formasi penyerangan Jie Sam Soe Fatsal 9 adalah formasi penyerangan : 4 3 2 - kita benar-benar mengandalkan 2 penyerang kembar di depan. Aku dan Dodo. Formasi ini jarang kami lakukan kecuali terpaksa. Itupun kalau kami bisa mendapatkan 2 pemain bayaran.
Pagi hari sebelum ayam jago berkokok, sebelum matahari kembar bangkit dari peraduannya. Kami para Se7en Swords sudah terlibat dalam pertarungan melawan Mogul dan anak buahnya. Tapi pada kenyataannya Mogul benar-benar tangguh, apalagi anak buahnya juga benar-benar tangguh. Serangan kombinasi Do Re Mi kami beberapa kali dapat di patahkan.
Sekarang kami bersiap-siap melakukan kick and rush, melakukan serangan balik dengan formasi Jie Sam Soe Fatsal 9. Dan ini benar-benar efektif. Mogul dan anak buahnya benar-benar kewalahan. Beberapa kali Simn Laba Jaka Seger Rara Anteng yang merupakan pemain lapis belakang, ikut naik membantu menyerang. Dan akhirnya Mogul dan anak buahnya terkalahkan.
Akibat dari pertarungan yang maha dahsyat itu, menyebabkan puncak Bromo hancur lebur jadi debu. Menyisakan sebuah kawah yang besar. Mogul dan anak buahnya terkubur ke dasar kawah. Senjata andalan Mogul, Batok Kelapa Terbang, berubah menjadi gunung. Begitu juga Kursi Penghisap Sukma miliknya ikutan berubah menjadi gunung juga.
- Aduh kasihan sekali ya , kata Rara Anteng pada Misk.
- Ya hik hik hik hik….., Misk menangis sesenggukan.
- Aku berjanji walaupun Mogul ini jahat tenan, tetapi karena ia bertarung sungguh-sungguh secara kesatria, maka nanti aku dan seluruh rakyatku akan memberikan upeti berupa hasil bumi ke kawah bromo sebagai rasa hormat kami.
- Aku setuju, kita serahkan setiap bulan ke 10 – kesada, Jaka Seger setuju.
- Baguslah kalau begitu. Jadi sekarang kita bisa membantu Jaka Tarub untuk mencuri selendang Nawang Wulan, kata Simn belum menyerah.
- TIDAAAAAAAAAK ……..! jawab kami.
- Sekali ini aja, please,……. Simn pantang menyerah.
- Ya boleh ya ya ……..
10 oktober 2005
Jumat, 02 November 2007
ANDAI HARI ESOK TIDAK PERNAH DATANG
Tidak terasa sudah hampir 3 tahun aku meninggalkan sekolahku ini. Setelah lulus dari sini aku melanjutkan kuliah ke Bandung. Kedatanganku kembali kesini untuk menjemput adikku, Dik. Dia sedang latihan band. Sebenarnya Dik tidak mau dijemput, ia bisa pulang bersama teman-temannya. Tapi aku memaksa, entahlah malam ini aku ingin melihat-lihat lagi suasana sekolahku ini. Kebetulan aku juga sedang pulang ke kotaku.
Hampir jam 8 malam, ternyata Dik belum selesai juga. Ia latihan main band di aula sekolah. Dik main bas.
- Bentar lagi, mas, katanya.
Aku hanya mengangguk saja. Mula-mula aku duduk-duduk saja dekat situ sambil melihat Dik dan teman-temannya main band.
- Kami akan ikutan audisi dreamband, kata Dik dan teman-temannya.
Aku hanya tertawa saja. 1 - 2 lagu aku masih bisa menikmati, tapi lagu berikutnya aku tak tahan lagi. Aku memberi isyarat untuk keluar aula.
Sambil menunggu aku mulai berjalan-jalan di halaman sekolah. Di luar dingin sekali. Sekolah ini cukup luas, bangunan untuk kelas terdiri 2 lantai, dilengkapi Gedung untuk Administrasi dan Guru, Gedung Perpustakaan, Gedung Olaraga dan Lapangan sepak bola mini. Mengelilingi sebuah taman kecil di tengah dan sebuah patung setengah badan. Kepala sekolahnya – seorang pastur, baru beberapa bulan yang lalu meninggal dunia. Anak didiknya senang memanggil namanya romo Sis. Pekerjaannya tiap pagi menagih Tatibsi.
Keadaan di luar kelas tidak terlalu terang, penerangan hanya lampu taman. Koridor kelas agak gelap, tidak semua lampu dinyalakan. Aku segera berjalan menyusuri koridor kelas. Sambil sekali-kali melihat ke arah taman. Samar-samar aku melihat seseorang sedang duduk disana. Tidak begitu jelas, aku segera menghampirinya. Rupanya seorang murid disini, cewek, tampak masih memakai seragam sekolahnya. Aku menyapanya, kemudian duduk di sebelahnya.
- Belum pulang ? tanyaku.
- Sebentar lagi, cewek itu menjawab. Manis juga. Rambutnya pendek.
- Nggak nunggu di dalam saja, kataku.
Kupikir, mungkin menunggu salah seorang temannya yang sedang mengikuti kegiatan ekstra kurikuler juga.
Ia menggeleng kepala, Enak disini saja.
- Kelas berapa ? aku bertanya lagi.
- Klas 2 IPA, jawabnya.
- Aku juga dulu klas IPA juga, kataku. Cewek itu diam saja.
- Aku lebih menyukai Fisika daripada Matematika, kataku lagi.
Cewek itu tetap diam saja. Kupikir aku mungkin terlalu banyak bicara membuatnya tidak nyaman. Kami berdua hanya duduk diam-diam saja. Aku agak bingung juga mengajaknya bicara. Akhirnya aku bangkit berdiri, hendak meninggalkannya.
- Mau membantuku ? , tiba-tiba cewek itu berkata lagi.
Aku kembali duduk Boleh, jawabku. Membantu apa ?
- Mencari cincin, jatuh di sekitar sini.
Aku tertawa, bukannya tidak mau membantu, tapi sekarang ‘kan sudah gelap, kenapa tidak dicari besok siang saja ?
- Waktuku tidak banyak, ia kemudian bangkit berdiri dan mulai mencari-cari sekitar tempat itu.
Kemudian ia duduk di bawah dan mulai mengkorek-korek tempat itu dengan menggunakan sebatang ranting. Aku menggelengkan kepala.
- Dasar keras kepala, kataku. Mana kelihatan gelap begini.
- Kalau tidak mau membantu, ya sudah kau boleh pergi, katanya agak ketus.
Aku terperangah dengan jawabannya.
- Kau mengingatkan aku pada seseorang , kataku sambil ikut jongkok di sebelahnya.
- Pacar ?, tebaknya.
- Dulu, sekarang jadi pacar teman sendiri, jawabku. Oh ya, namaku Sam, aku mengulurkan tangan.
- Aku Lay, tapi ia menolak menjabat tanganku. Aku tidak pernah melihatmu.
- Kebetulan aku menjemput adikku sedang latihan band di aula, aku menjelaskan.
- Kau tidak marah pacarmu direbut temanmu ? tanya Lay.
- Tidak, jawabku. Malah sekarang aku taruhan dengannya.
- Taruhan apa ?
- Dalam waktu 30 hari aku akan mencari cinta lagi
- Hi, hi, hi, lucu …… kayak judul film saja, Lay tertawa.
- Aku pernah juga bertaruh, kata Lay lagi.
- Bertaruh apa ? gantian aku yang bertanya.
- How to lose a guy in 10 days, jawab Lay sekenanya..
Kami tertawa.
- Kau pasti butuh waktu lebih dari 10 hari, kalau aku jadi pacarmu, kataku. Minimal mesti 50 first dates.
Kami tertawa lagi. Ternyata Lay menyenangkan juga, tapi mungkin karena ia terbilang agak cantik saja. Agak cantik ? ya begitulah, mukanya agak pucat. Beberapa menit mencari, tiba-tiba badan Lay terhuyung-huyung hendak jatuh. Aku menahannya kemudian membimbingnya duduk di bangku.
- Kau tidak apa-apa ? tanyaku. Aku agak kaget saat memperhatikan wajah Lay. Kau pucat sekali, kau sakit ya ?
Lay mengangguk pelan, sakit sekali rasanya.
- Sakit apa Lay ? kau sudah ke dokter, kataku. Aku mengusap keringat di dahi dan ujung hidungnya.
Ia mengangguk, Dokter belum berhasil menentukan penyakitnya apa. Hanya bilang aku diserang virus ganas. Tubuhku kehilangan daya tahannya, tidak mampu memproduksi antibody maksimal.
- Kau seharusnya banyak istirahat di rumah, bukan keluyuran disini malam-malam, kataku.
- Tapi aku harus menemukan cincin itu sebelum aku mati, jawabnya.
Aku terkejut dan tidak mengerti.
- Kau harus optimis untuk sembuh, kataku. Jangan bicara yang tidak-tidak .
Lay menatapku dan tersenyum, kau baik sekali Sam, terima kasih. Aku hanya berharap andai saja hari esok tidak pernah datang.
- Kenapa ? aku semakin tidak mengerti. Pembicaraannya seperti orang yang sudah putus asa. Hanya menunggu waktu untuk dipanggil saja.
- Dengan datangnya hari esok, penyakitku akan semakin ganas. Aku tak tahan lagi. Lebih baik tak ada lagi hari esok.
- Sudahlah, aku menggeleng-gelengkan kepala, Aku ambilkan minum dulu ya, atau …… kau ikut aku ke aula yuk, aku mengajaknya.
Lay menolak, Aku menunggu disini saja.
- Kau tidak takut sendirian ? tanyaku.
Lay tersenyum, kau yang seharusnya takut.
- Aku ? aku menunjuk hidungku, sambil pura-pura menggigil ketakutan.
Aku kemudian mendekatkan wajahku dan berbisik padanya dengan suara kubuat seram, hati-hati disini banyak setan,hiy…
Lay tersenyum, mukanya yang pucat tidak dapat menutupi kecantikannya.
Aku lalu pergi meninggalkannya dan berjalan ke arah aula. Barangkali ada yang bawa minuman, katakudalam hati. Ah, untunglah ada yang bawa minuman gelas. Aku mengambil 2 buah kemudian kembali lagi ke tempat Lay.
- Mau kemana lagi, mas ?, tanya Dik.
Rupanya mereka sudah selesai latihan, sekarang sedang merapikan alat-alat musiknya.
- Ke taman sebentar, jawabku. Entah kenapa aku tidak menceritakan tentang Lay.
Sesampai di taman, ternyata Lay sudah tidak ada.
- Lay ? Lay ? aku memanggilnya.
Aku mengelilingi taman. Tapi Lay tidak kutemukan. Aku bermaksud kembali ke kelas. Tiba-tiba seseorang memanggilku. Aku melihat Lay, ternyata dia sudah ada di koridor lantai atas. Ia melihat ke arahku dan melambaikan tangannya, menyuruhku naik. Aku segera naik menyusulnya. Aku menyodori minuman gelas. Lay menerima dan meminumnya. Terima kasih, Sam.
- Ini kelasku, Lay menunjukan ruangan kelasnya.
Lalu menarik tanganku masuk ke ruangan klasnya. Kami berdua masuk. Ketika aku hendak menyalakan lampu, Lay mencegahku.
- Enak gelap begini, kata Lay.
- Wah kebetulan, kataku dalam hati. Pikiranku mulai melayang, siap tahu dapat kesempatn menciumnya.
- Aku akan mencari cincinku disini. Barangkali jatuh disini, kata Lay lagi.
- Ya……h, aku mengeluh, Gelap begini …..? Aku garuk-garuk kepala.
- Cincinku bermata berlian, pasti akan bersinar dalam gelap, Lay menjelaskan padaku. Ia kemudian memeriksa kolong meja dan kursi.
Aku mengikutinya. Beberapa kali kepala kami terantuk meja. Bahkan saling beradu kepala. Kami berdua tertawa. Lalu duduk di lantai bersandar pada bangku.
- Rumahmu dimana Lay ? aku bertanya padanya. Kapan-kapan aku main ke rumahmu, apel malam minggu.
- Jangan, rumahku jauuuuh, jawab Lay sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian, nafas Lay tersengal-sengal.
- Ada apa Lay ?, kataku.
Lay tidak menjawab, ia seperti kesulitan bernafas.
- Aaaaaku …tercekik.., suaranya terputus-putus.
Aku menjadii panik kemudian berusaha menariknya keluar kelas, tapi Lay menolak. Ia memberontak.
- Aku panggil yang lain ya, kataku sambil berdiri dan setengah berlari keluar kelas. Dari koridor atas aku berteriak ke bawah. Tolong….! Tolong ….!
Beberapa orang berhamburan keluar ke halaman melihat ke arahku.
- Ada apa ? ada apa ?, adikku terkejut ia segera berlari ke atas diikuti yang lain.
- Ada yang sakit, di dalam kelas, kataku. Aku masuk kembali ke kelas. Seseorang menyalakan lampu. Tapi Lay sudah tidak ada.
- Lay , Lay, aku memanggilnya, sambil memeriksa seluruh kelas. Tidak ada.
Adikku seperti terkejut.
- Sam, kau kenal Lay dimana ? tanya Dik keheranan.
- Di taman, dia sedang sakit, jawabku, sambil berjalan keluar kelas. Aku kemudian memeriksa ruangan kelas sebelah. Yang lain mengikuti.
- Sam, Lay memang sakit, tapi dia ada di rumah sakit !, kata Dik di belakangku.
Aku seperti menabrak tembok, berhenti mendadak. Akibatnya orang-orang di belakangku terlambat berhenti sehingga menabrakku. Kami semua berjatuhan. Di saat terjatuh itulah aku melihat sesuatu yang berkilauan di sudut kelas. Aku segera merangkak mendekatinya. Aku berhasil menemukan cincin Lay !
- Lay datang kesini untuk mencari cincinnya ini, kataku sambil menunjukan cincin itu pada Dik dan yang lain.
- Sam, Lay tidak mungkin kesini, penyakitnya semakin hari semakin parah, jawab Dik. Ia memang kehilangan cincinnya beberapa hari sebelum jatuh sakit.
Tapi Dik tidak dapat menyembunyikan rasa herannya juga, mendengar aku telah bertemu Lay dan membantu mencari cincinnya.
- Kalau Lay di rumah sakit, aku tadi bertemu siapa ?, tanyaku.
Awalnya aku juga keheranan, tapi kemudian buluku kudukku mulai berdiri. Semua pasti merasakan hal yang sama. Kami saling berpandangan, dan tanpa menunggu aba-aba lebih lanjut lagi. Kami semua berlari turun.
Kami tak menyadari ketika perlahan Lay muncul dan berusaha mematikan lampu di ruangan kelasnya. Berulang kali ia menekan tombol, tapi jarinya hanya menembus tombol itu. Seseorang bertubuh tinggi besar membantunya dari belakang, mematikan lampu. Mata Lay perlahan menitikkan air mata.
- Terima kasih Sam, kau telah menemukan cincinku, bisik Lay.
Orang itu kemudian mengajak Lay pergi. Waktumu sudah tiba.
- Tidak bisakah aku bersama Sam sebentar lagi saja ? suara Lay tercekat.
Orang menggeleng, Waktumu sudah tiba. Duniamu sudah berbeda.
Sampai di bawah, HP Dik berdering, ia menerimanya, Apa …? Iya..iya.
Dik menutup Hpnya, Lay baru saja meninggal.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Sekarang aku baru mengerti semua ucapan Lay yang kuanggap aneh tadi. Aku menimang-nimang cincinnya. Aku tidak mengerti kenapa Lay memilihku. Pasti bukan karena aku ganteng, pasti ada alasan lain yang tidak kumengerti.
- Mas, kita antarkan cincinnya ke keluarganya di rumah sakit, kebetulan aku kenal keluarganya walaupun kami tidak sekelas, kata Dik.
Aku ragu-ragu untuk mengangguk
- Aku ……. Bagaimana kalau besok pagi saja ……., terus terang aku agak ragu-ragu. Bukan apa ada rasa ngeri juga.
- Ayolah mas, kita ke rumah sakit sekarang, Dik mendesakku.
- Sekarang ….? Apa perlu malam ini juga …..?, Kenapa nggak besok saja Dik ? Sudah malam, sudah gelap. Aku sudah ngantuk, terus terang agak segan juga aku untuk mengantarkan cincin itu sekarang.
Dik tidak menghiraukannya, aku yang nyetir.
April 2004
Hampir jam 8 malam, ternyata Dik belum selesai juga. Ia latihan main band di aula sekolah. Dik main bas.
- Bentar lagi, mas, katanya.
Aku hanya mengangguk saja. Mula-mula aku duduk-duduk saja dekat situ sambil melihat Dik dan teman-temannya main band.
- Kami akan ikutan audisi dreamband, kata Dik dan teman-temannya.
Aku hanya tertawa saja. 1 - 2 lagu aku masih bisa menikmati, tapi lagu berikutnya aku tak tahan lagi. Aku memberi isyarat untuk keluar aula.
Sambil menunggu aku mulai berjalan-jalan di halaman sekolah. Di luar dingin sekali. Sekolah ini cukup luas, bangunan untuk kelas terdiri 2 lantai, dilengkapi Gedung untuk Administrasi dan Guru, Gedung Perpustakaan, Gedung Olaraga dan Lapangan sepak bola mini. Mengelilingi sebuah taman kecil di tengah dan sebuah patung setengah badan. Kepala sekolahnya – seorang pastur, baru beberapa bulan yang lalu meninggal dunia. Anak didiknya senang memanggil namanya romo Sis. Pekerjaannya tiap pagi menagih Tatibsi.
Keadaan di luar kelas tidak terlalu terang, penerangan hanya lampu taman. Koridor kelas agak gelap, tidak semua lampu dinyalakan. Aku segera berjalan menyusuri koridor kelas. Sambil sekali-kali melihat ke arah taman. Samar-samar aku melihat seseorang sedang duduk disana. Tidak begitu jelas, aku segera menghampirinya. Rupanya seorang murid disini, cewek, tampak masih memakai seragam sekolahnya. Aku menyapanya, kemudian duduk di sebelahnya.
- Belum pulang ? tanyaku.
- Sebentar lagi, cewek itu menjawab. Manis juga. Rambutnya pendek.
- Nggak nunggu di dalam saja, kataku.
Kupikir, mungkin menunggu salah seorang temannya yang sedang mengikuti kegiatan ekstra kurikuler juga.
Ia menggeleng kepala, Enak disini saja.
- Kelas berapa ? aku bertanya lagi.
- Klas 2 IPA, jawabnya.
- Aku juga dulu klas IPA juga, kataku. Cewek itu diam saja.
- Aku lebih menyukai Fisika daripada Matematika, kataku lagi.
Cewek itu tetap diam saja. Kupikir aku mungkin terlalu banyak bicara membuatnya tidak nyaman. Kami berdua hanya duduk diam-diam saja. Aku agak bingung juga mengajaknya bicara. Akhirnya aku bangkit berdiri, hendak meninggalkannya.
- Mau membantuku ? , tiba-tiba cewek itu berkata lagi.
Aku kembali duduk Boleh, jawabku. Membantu apa ?
- Mencari cincin, jatuh di sekitar sini.
Aku tertawa, bukannya tidak mau membantu, tapi sekarang ‘kan sudah gelap, kenapa tidak dicari besok siang saja ?
- Waktuku tidak banyak, ia kemudian bangkit berdiri dan mulai mencari-cari sekitar tempat itu.
Kemudian ia duduk di bawah dan mulai mengkorek-korek tempat itu dengan menggunakan sebatang ranting. Aku menggelengkan kepala.
- Dasar keras kepala, kataku. Mana kelihatan gelap begini.
- Kalau tidak mau membantu, ya sudah kau boleh pergi, katanya agak ketus.
Aku terperangah dengan jawabannya.
- Kau mengingatkan aku pada seseorang , kataku sambil ikut jongkok di sebelahnya.
- Pacar ?, tebaknya.
- Dulu, sekarang jadi pacar teman sendiri, jawabku. Oh ya, namaku Sam, aku mengulurkan tangan.
- Aku Lay, tapi ia menolak menjabat tanganku. Aku tidak pernah melihatmu.
- Kebetulan aku menjemput adikku sedang latihan band di aula, aku menjelaskan.
- Kau tidak marah pacarmu direbut temanmu ? tanya Lay.
- Tidak, jawabku. Malah sekarang aku taruhan dengannya.
- Taruhan apa ?
- Dalam waktu 30 hari aku akan mencari cinta lagi
- Hi, hi, hi, lucu …… kayak judul film saja, Lay tertawa.
- Aku pernah juga bertaruh, kata Lay lagi.
- Bertaruh apa ? gantian aku yang bertanya.
- How to lose a guy in 10 days, jawab Lay sekenanya..
Kami tertawa.
- Kau pasti butuh waktu lebih dari 10 hari, kalau aku jadi pacarmu, kataku. Minimal mesti 50 first dates.
Kami tertawa lagi. Ternyata Lay menyenangkan juga, tapi mungkin karena ia terbilang agak cantik saja. Agak cantik ? ya begitulah, mukanya agak pucat. Beberapa menit mencari, tiba-tiba badan Lay terhuyung-huyung hendak jatuh. Aku menahannya kemudian membimbingnya duduk di bangku.
- Kau tidak apa-apa ? tanyaku. Aku agak kaget saat memperhatikan wajah Lay. Kau pucat sekali, kau sakit ya ?
Lay mengangguk pelan, sakit sekali rasanya.
- Sakit apa Lay ? kau sudah ke dokter, kataku. Aku mengusap keringat di dahi dan ujung hidungnya.
Ia mengangguk, Dokter belum berhasil menentukan penyakitnya apa. Hanya bilang aku diserang virus ganas. Tubuhku kehilangan daya tahannya, tidak mampu memproduksi antibody maksimal.
- Kau seharusnya banyak istirahat di rumah, bukan keluyuran disini malam-malam, kataku.
- Tapi aku harus menemukan cincin itu sebelum aku mati, jawabnya.
Aku terkejut dan tidak mengerti.
- Kau harus optimis untuk sembuh, kataku. Jangan bicara yang tidak-tidak .
Lay menatapku dan tersenyum, kau baik sekali Sam, terima kasih. Aku hanya berharap andai saja hari esok tidak pernah datang.
- Kenapa ? aku semakin tidak mengerti. Pembicaraannya seperti orang yang sudah putus asa. Hanya menunggu waktu untuk dipanggil saja.
- Dengan datangnya hari esok, penyakitku akan semakin ganas. Aku tak tahan lagi. Lebih baik tak ada lagi hari esok.
- Sudahlah, aku menggeleng-gelengkan kepala, Aku ambilkan minum dulu ya, atau …… kau ikut aku ke aula yuk, aku mengajaknya.
Lay menolak, Aku menunggu disini saja.
- Kau tidak takut sendirian ? tanyaku.
Lay tersenyum, kau yang seharusnya takut.
- Aku ? aku menunjuk hidungku, sambil pura-pura menggigil ketakutan.
Aku kemudian mendekatkan wajahku dan berbisik padanya dengan suara kubuat seram, hati-hati disini banyak setan,hiy…
Lay tersenyum, mukanya yang pucat tidak dapat menutupi kecantikannya.
Aku lalu pergi meninggalkannya dan berjalan ke arah aula. Barangkali ada yang bawa minuman, katakudalam hati. Ah, untunglah ada yang bawa minuman gelas. Aku mengambil 2 buah kemudian kembali lagi ke tempat Lay.
- Mau kemana lagi, mas ?, tanya Dik.
Rupanya mereka sudah selesai latihan, sekarang sedang merapikan alat-alat musiknya.
- Ke taman sebentar, jawabku. Entah kenapa aku tidak menceritakan tentang Lay.
Sesampai di taman, ternyata Lay sudah tidak ada.
- Lay ? Lay ? aku memanggilnya.
Aku mengelilingi taman. Tapi Lay tidak kutemukan. Aku bermaksud kembali ke kelas. Tiba-tiba seseorang memanggilku. Aku melihat Lay, ternyata dia sudah ada di koridor lantai atas. Ia melihat ke arahku dan melambaikan tangannya, menyuruhku naik. Aku segera naik menyusulnya. Aku menyodori minuman gelas. Lay menerima dan meminumnya. Terima kasih, Sam.
- Ini kelasku, Lay menunjukan ruangan kelasnya.
Lalu menarik tanganku masuk ke ruangan klasnya. Kami berdua masuk. Ketika aku hendak menyalakan lampu, Lay mencegahku.
- Enak gelap begini, kata Lay.
- Wah kebetulan, kataku dalam hati. Pikiranku mulai melayang, siap tahu dapat kesempatn menciumnya.
- Aku akan mencari cincinku disini. Barangkali jatuh disini, kata Lay lagi.
- Ya……h, aku mengeluh, Gelap begini …..? Aku garuk-garuk kepala.
- Cincinku bermata berlian, pasti akan bersinar dalam gelap, Lay menjelaskan padaku. Ia kemudian memeriksa kolong meja dan kursi.
Aku mengikutinya. Beberapa kali kepala kami terantuk meja. Bahkan saling beradu kepala. Kami berdua tertawa. Lalu duduk di lantai bersandar pada bangku.
- Rumahmu dimana Lay ? aku bertanya padanya. Kapan-kapan aku main ke rumahmu, apel malam minggu.
- Jangan, rumahku jauuuuh, jawab Lay sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian, nafas Lay tersengal-sengal.
- Ada apa Lay ?, kataku.
Lay tidak menjawab, ia seperti kesulitan bernafas.
- Aaaaaku …tercekik.., suaranya terputus-putus.
Aku menjadii panik kemudian berusaha menariknya keluar kelas, tapi Lay menolak. Ia memberontak.
- Aku panggil yang lain ya, kataku sambil berdiri dan setengah berlari keluar kelas. Dari koridor atas aku berteriak ke bawah. Tolong….! Tolong ….!
Beberapa orang berhamburan keluar ke halaman melihat ke arahku.
- Ada apa ? ada apa ?, adikku terkejut ia segera berlari ke atas diikuti yang lain.
- Ada yang sakit, di dalam kelas, kataku. Aku masuk kembali ke kelas. Seseorang menyalakan lampu. Tapi Lay sudah tidak ada.
- Lay , Lay, aku memanggilnya, sambil memeriksa seluruh kelas. Tidak ada.
Adikku seperti terkejut.
- Sam, kau kenal Lay dimana ? tanya Dik keheranan.
- Di taman, dia sedang sakit, jawabku, sambil berjalan keluar kelas. Aku kemudian memeriksa ruangan kelas sebelah. Yang lain mengikuti.
- Sam, Lay memang sakit, tapi dia ada di rumah sakit !, kata Dik di belakangku.
Aku seperti menabrak tembok, berhenti mendadak. Akibatnya orang-orang di belakangku terlambat berhenti sehingga menabrakku. Kami semua berjatuhan. Di saat terjatuh itulah aku melihat sesuatu yang berkilauan di sudut kelas. Aku segera merangkak mendekatinya. Aku berhasil menemukan cincin Lay !
- Lay datang kesini untuk mencari cincinnya ini, kataku sambil menunjukan cincin itu pada Dik dan yang lain.
- Sam, Lay tidak mungkin kesini, penyakitnya semakin hari semakin parah, jawab Dik. Ia memang kehilangan cincinnya beberapa hari sebelum jatuh sakit.
Tapi Dik tidak dapat menyembunyikan rasa herannya juga, mendengar aku telah bertemu Lay dan membantu mencari cincinnya.
- Kalau Lay di rumah sakit, aku tadi bertemu siapa ?, tanyaku.
Awalnya aku juga keheranan, tapi kemudian buluku kudukku mulai berdiri. Semua pasti merasakan hal yang sama. Kami saling berpandangan, dan tanpa menunggu aba-aba lebih lanjut lagi. Kami semua berlari turun.
Kami tak menyadari ketika perlahan Lay muncul dan berusaha mematikan lampu di ruangan kelasnya. Berulang kali ia menekan tombol, tapi jarinya hanya menembus tombol itu. Seseorang bertubuh tinggi besar membantunya dari belakang, mematikan lampu. Mata Lay perlahan menitikkan air mata.
- Terima kasih Sam, kau telah menemukan cincinku, bisik Lay.
Orang itu kemudian mengajak Lay pergi. Waktumu sudah tiba.
- Tidak bisakah aku bersama Sam sebentar lagi saja ? suara Lay tercekat.
Orang menggeleng, Waktumu sudah tiba. Duniamu sudah berbeda.
Sampai di bawah, HP Dik berdering, ia menerimanya, Apa …? Iya..iya.
Dik menutup Hpnya, Lay baru saja meninggal.
Aku tak tahu harus berbuat apa. Sekarang aku baru mengerti semua ucapan Lay yang kuanggap aneh tadi. Aku menimang-nimang cincinnya. Aku tidak mengerti kenapa Lay memilihku. Pasti bukan karena aku ganteng, pasti ada alasan lain yang tidak kumengerti.
- Mas, kita antarkan cincinnya ke keluarganya di rumah sakit, kebetulan aku kenal keluarganya walaupun kami tidak sekelas, kata Dik.
Aku ragu-ragu untuk mengangguk
- Aku ……. Bagaimana kalau besok pagi saja ……., terus terang aku agak ragu-ragu. Bukan apa ada rasa ngeri juga.
- Ayolah mas, kita ke rumah sakit sekarang, Dik mendesakku.
- Sekarang ….? Apa perlu malam ini juga …..?, Kenapa nggak besok saja Dik ? Sudah malam, sudah gelap. Aku sudah ngantuk, terus terang agak segan juga aku untuk mengantarkan cincin itu sekarang.
Dik tidak menghiraukannya, aku yang nyetir.
April 2004
Langganan:
Postingan (Atom)