Pagi itu, suasana balai desa Cepit di kaki gunung Sumbing tampak ramai. Sedang berlangsung sidang adat yang dipimpin langsung oleh pak Kades. Pagi itu salah seorang penduduknya yaitu Cinderela akan diadili sehubungan dengan tuduhan serius dari ibu tiri dan saudara-saudara tirinya.
Cinderela dituduh telah mencuri sepatu kaca milik mereka.
- Coba kau ceriterakan kronologisnya itu, ibu tiri Cinderela, kata pak Kades.
- Begini ceriteranya, ibu tiri Cinderela mulai berceritera.
- Pada jaman dahulu kala kira-kira 40 tahun yang lalu di sebuah kota bernama Parakan lahir seorang bayi perempuan yang cantik sekali, yaitu aku sendiri, pak Kades.
Ibu tiri Cinderela menunjuk dirinya sendiri sambil mengedip-ngedipkan mata genitnya pada pak Kades.
- Pada waktu itu kami hidup serba berkecukupan, walaupun ayah hanya seorang mandor perkebunan tembakau di Temanggung. Masa kecilku ….
- Stop…stop…ibu tiri Cinderela, tidak usah ceritera mengenai asal usulmu, tapi ceriterakan kronologis pencurian sepatu kaca itu saja, pak Kades memotong ceritera ibu tiri Cinderela sambil geleng-geleng kepala.
- Lha kalau sampeyan ceritera dari mulai jaman dulu itu, sampai kapan selesai sidang adat ini, bisa-bisa 3 hari 3 malam.
- Hu………….h, para penduduk yang lain yang mengikuti sidang adat ini mencemooh.
- Baik, baik, sahut ibu tiri Cinderela agak gusar karena ceriteranya dipotong dan juga karena dicemooh oleh penduduk yang lain.
- Kami pada waktu Muludan beli 2 pasang sepatu kaca itu di pasar Klewer di Jogja Kebetulan ada discount besar-besaran. Beli satu dapat dua. Beli dua dapat tiga. Makan berempat hanya bayar bertiga. Jadi kalau makan berempat puluh hanya bayar bertiga puluh.
Ketika pak Kades mulai mengerutkan dahinya, ibu tiri Cinderela kembali ke alur ceriteranya lagi.
- Kemudian pada waktu Pangeran mengadakan sayembara siapa yang mempunyai pasangan dari sepatu kaca yang ditemukannya pada waktu pesta ulang tahunnya, Cinderela telah mencuri sepatu-sepatu kaca itu, ceritera ibu tiri Cinderela.
- Tidak benar….tidak benar…..pak Kades. Tentu saja Cinderela menyangkal tuduhan ibu tirinya itu.
- Tenang…tenang, sekarang coba kau Cinderela, bagaimana kronologis ceriteramu ? Bagaimana kau memperoleh sepatu kaca itu Cinderela ?, tanya pak Kades.
- Begini pak Kades, saya ini biarpun orang Sumbing sini tapi nggak sumbing khan ?
- Kalau itu sih aku sudah tahu, tidak usah kau ceritera.
- Kami semua penduduk sini sudah tahu kalau bibirmu itu seksi tidak sumbing. Cuma kami…he…he…he… belum tahu bagaimana rasanya, soalnya belum pernah mencoba, pak Kades mulai genit.
- Ha…ha…..ha…..para penduduk yang lain menertawakan omongan genit pak Kades. Yang agak tendensius itu.
Cinderela tidak mengacuhkan omongan pak Kades. Dicium pak Kades ? Amit-amit ih..ih….hiy….
- Selama ini aku bekerja sebagai tour leader para pendaki gunung yang hendak mendaki gunung Sumbing dan gunung Sundoro, pak Kades, Cinderelapun berceritera.
- Kemudian aku mulai berkenalan dan bersahabat dengan para tikus dan tupai di gunung tepatnya di Pasar Demit, dan untuk menghadiri pesta ulang tahun Pangeran, aku dibuatkan sepatu kaca itu oleh mereka.
- Ha…ha…..ha…..para penduduk yang lain menertawakan ceritera Cinderela itu.
- Mana mungkin pak Kades, yang mboten-mboten saja Cinderela ini.
- Masak tikus bisa bikin sepatu kaca, kata mereka mencemooh Cinderela. Huhhhhhhhhhhh…………..
- Pak Kades, Cinderela ini terlalu banyak membaca ceritera-ceritera Hans Christian Andersen, jadi dia hanya berkhayal saja.
- Betul pak Kades, dia ini terbawa ceritera-ceritera Hans Christian Andersen saja. Ia mengarang-ngarang saja ceritera asal usul sepatu kacanya itu, tukas ibu tiri Cinderela.
- Betul pak Kades. Betul pak Kades, saudara-saudara tiri Cinderela ikut menimpali. Malah sekarang Cinderela itu hamil pak Kades.
- Ha…h !..........para penduduk yang lain terkaget-kaget.
- Tidak benar pak Kades. Tidak benar pak Kades, Cinderela tentu saja membantah keras tuduhan baru itu.
- Yang hamil itu Lia pacar Ariel Peter Pan, pak Kades.
- Ha…ha…..ha….para penduduk yang lain sekali lagi menertawakan ceritera Cinderela itu.
- Peter Pan itu khan cuma film buatan Dream Work pak Kades, mana bisa menghamili Lia, kata mereka.
- Betul pak Kades, Cinderela itu juga terlalu sering menonton film Dream Work, Walt Disney dan yang lain. Peter Pan itu khan dari Never Land, mana mungkin menghamili Lia di Semarang, ibu tiri Cinderela bersemangat menyudutkan Cinderela.
- Tenang…tenang….tenang, pak Kades berusaha menenangkan suasana balai desa yang mulai gaduh.
- Bagaimana ini pak Carik ?, pak Kades berbisik pada pak Carik.
Pak Kades ini biar bagaimanapun juga tidak tega untuk ikut menghukum Cinderela. Karena biarpun sudah punya 3 istri, siapa tahu Cinderela mau jadi istri ke 4 nya. Tahu-tahu Tempe-tempe. Siapa tahu he-he-he.
Pak Kades sontoloyo ! Bibir sumbing Cinderela itu lho. Salah, salah, bibir seksi Cinderela itu lho. Nggak kukuh deh…..
- Ibu tiri Cinderela, bagaimana mungkin sepatu kaca itu bisa pas pisan sama kaki Cinderela ?, kali ini pak Kades bertanya lagi pada ibu tiri Cinderela.
- Pak Kades, di jaman sekarang ini semua bisa direkayasa, pasti sepatu kaca itu sudah direkayasa menjadi pas ukurannya dengan kaki Cinderela.
- Caranya bagaimana ? Coba Cinderela ukuran sepatumu berapa ?, Tanya pak Kades pada Cinderela.
- 39 pak Kades, jawab Cinderela.
- Kalau kau berdua berapa ukuran sepatumu ?, Tanya pak Kades pada ke dua saudara tiri Cinderela.
- Ukurannya….ukurannya……malu pak Kades, saudara tiri Cinderela malu-malu untuk menjawab.
- Lho, ditanya ukuran sepatu kok malu, kalau ditanya ukuran yang lain itu yang membuat malu. Membuat jengah. Saru !, pak Kades agak gusar.
- Yang kanan 40 yang kiri 41 pak Kades, jawab saudara tiri Cinderela.
- Kalau……kalau ukuran sepatuku….yang kanan 38 eeeh…..yang kiri 40 pak Kades, jawab saudara tiri Cinderela yang satu lagi.
- Kalau ukuran sepatu ku 40 kanan kiri sama pak Kades, ibu tiri Cinderela ikut menjawab.
- Mboh ora takon !.....pak Kades menjadi gusar.
- Ha….ha…..ha….para penduduk yang lain menertawakan ibu tiri Cinderela. Juga menertawakan ukuran sepatu saudara-saudara tiri Cinderela.
- Tenang…tenang….tenang, pak Kades berusaha menenangkan suasana balai desa yang mulai gaduh lagi.
Tak lama kemudian Pangeran datang sambil membawa pasangan sepatu kaca yang jadi masalah itu.
- Pak Kades, dan bapak ibu saderek sekalian, aku memerintahkan padamu, untuk menutup sidang adat ini, karena sesungguhnya Cinderela lah pemilik asli sepatu kaca itu.
- Tapi Pangeran, kenapa anda begitu percaya dan seyakin-yakinnya pada Cinderela ? Tanya pak Kades.
- Begini pak Kades, aku telah lama mengenal Cinderela, Pangeran mulai berceritera.
Beberapa waktu yang lalu aku dan beberapa orang teman merencanakan pendakian 4 musim, yaitu pendakian gunung Sumbing gunung Sundoro gunung Merbabu dan gunung Merapi. Untuk itu aku menghubungi Cinderela untuk mengantar dan menemaniku melakukan perjalanan tersebut. Dan Cinderela bersedia.
Dalam perjalanan itu Cinderela banyak berceritera tentang para sahabatnya di Pasar Demit di dekat puncak Sumbing itu. Si tikus dan si Tupai. Cinderela juga tentang sepatu kaca ini. Nah, pada malam perayaan hari ulang tahunku. Dia datang dibantu para sahabatnya. Dibuatkan sepatu kaca dan kereta kencana.
Kemudian kau tahu pak Kades, bagaimana benih cinta mulai tumbuh di antara kami berdua. Perjalanan pendakian 4 musim itu benar-benar begitu romantis sekali pak Kades.
Sampai kemudian kami melakukan perbuatan yang terlarang itu. Jadi biar bagaimanapun aku tetap akan bertanggung jawab dan akan tetap menikah dengan Cinderela. Seperti yang dilakukan Ariel Peter Pan terhadap Lia pacarnya itu, pak Kades.
Demikianlah sang Pangeran berceritera.
- Jadi bapak ibu lan saderek sekalian, aku sudah beberkan kejadian demi kejadian yang sudah terjadi di antara kami berdua. Jadi urusan sepatu kaca ‘ndak usahlah diperpanjang lagi, kata sang Pangeran.
- Inggih, inggih Pangeran, para penduduk yang lain menerima penjelasan sang Pangeran walaupun terbesit rasa terkejut yang sangat amat. Tapi karena Pangeran mau bertanggung jawab, mereka juga mau menerimanya.
Ibu tiri Cinderela dan saudara-saudara tiri Cinderela tentu saja sangat menyesal.
- Huh……., ‘tuh khan apa ibu bilang, coba dari dulu kau juga rajin naik gunung seperti Cinderela pasti dapat kenalan seorang Pangeran juga, ibu tiri Cinderela bersungut-sungut.
Saudara-saudara tiri Cinderela hanya menangis menyesali nasibnya. Tidak jadi menikah dengan Pangeran. Malah sekarang dicemooh penduduk yang lain karena jadi ketahuan, ukuran sepatunya berbeda antara kiri dan kanan.
- Tapi Pangeran, ada apa denganmu ? ….aku…aku khan tidak hamil…..dan aku tidak pernah berbuat dengan siapapun juga, Cinderela berbisik pada sang Pangeran yang kemudian berdiri mendampinginya.
- Tenang saja, aku juga khan tidak pernah berbuat, sahut Pangeran kalem.
- Baiklah kalau begitu, kata pak Kades.
Iapun segera memutuskan perkara sepatu kaca sudah selesai. Dok ! dok ! dok ! pak Kades mengedokkan palunya ke meja.
- Baiklah, pak Carik, selanjutnya perkara apa , kata pak Kades pada pak Carik
- Eh….ini pak Kades….perkara perebutan tanah warisan antara Bawang Merah dan Bawang Putih, jawab pak Carik.
- Baiklah, silahkan yang bersangkutan dipanggil ke depan. Sudah siang nih, aku mulai lapar, kata pak Kades tak sabar.
Pak Kades juga agak kecewa, tidak bisa mendapatkan istri ke 4.
Sebenarnya ibu tiri Cinderela sudah memberi lampu hijau pada pak Kades untuk memilih saudara-saudara tiri Cinderela saja atau dirinya sendiri. Tapi pak kades mana mau. Wes STW ngono !
- Baiklah, kami panggilkan, Bawang Merah, Bawang Putih, Cabe Keriting setengah kilo, Merica secukupnya, Ayam sepotong, Garam dan Kecap…
- Lho, lho….pak Carik apa-apaan ini, pak Kades memotong.
- Ha….ha…..ha….para penduduk yang lain menertawakan pak Carik.
- Maaf…maaf….maaf….pak Kades…maaf pembaca…ini barusan daftar belanjaan istri kebawa.
- Dasar sontoloyo. Edan tuenaaaaaaan…..!
2006
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar