Namaku Reno. Apa yang ingin kuceriterakan padamu berikut ini adalah sebuah ceritera, yang banyak membuat orang tidak percaya. Ini sebuah ceritera yang kupaksakan terjadi.
Hanya karena sebuah deal dengan seorang penguasa Planet Giant. Jadi terlalu jauh untuk nilai sebuah kebenaran. Tak terlampaui oleh angan-angan yang paling liar sekalipun. Tapi seliar apapun, tetap akan kuceriterakan padamu.
Di puncak Gunung Langit, suatu pagi yang cerah Dodo berkata pada kami.
- Besok pagi, kita akan turun ke Lautan Pasir Bromo, ada sms dari Jaka Seger dan Rara Anteng. Desa Silat Ranu Pane dalam bahaya besar. Orang-orang Mogul akan menghancurkannya.
- Atas dasar apa, mereka akan menghancurkan Desa Silat Ranu Pane ?, tanyaku.
- Apakah kau lupa, kita sudah bersumpah tidak akan bertarung lagi ?, kata Misk.
- Betul juga, bagaimana ini ?, kata yang lain.
- Tindakan Mogul sudah keterlaluan. Mogul sudah menaikkan harga minyak dengan semena-mena. Sekarang akan menghancurkan Desa Silat Ranu Pane, untuk menguasai satu-satunya ladang penghasil minyak terbesar di kawasan ini. Hanya karena, mereka tidak mau ikutan menaikkan harga minyak.
Oh iya, sebelumnya mari kuperkenalkan padamu siapa saja kami – pendukung ceritera ini. Kami adalah para Se7en Swords. Dodo adalah kakak tertua, kemudian aku – Reno, disusul berturut-turut – Misk, Faal, Sole, Laba dan Simn. Sudah lama kami meninggalkan dunia kangouw. Sekarang kami menetap di Gunung Langit.
Keesokan pagi, kami para Se7en Swords sudah bersiap-siap melakukan perjalanan, melalui Penanjakan menyebrangi Lautan Pasir Bromo. Perjalanan yang sungguh-sungguh melelahkan.
Panas terik dari matahari kembar, betul-betul membakar ribuan butir pasir disini. Keringat kami tak sempat lagi menetes, begitu keluar dari pori-pori langsung menguap begitu saja. Pergi menguap tanpa pesan.
Belum lagi jika kami di hadang Badai Dinding Pasir yang maha dahsyat. Setinggi pohon kelapa, yang akan menghancurkan apa saja.
Di Lautan Pasir kami berjalan beriringan. Di tengah sengatan matahari kembar yang cukup terik. Misk mengeluh kepanasan.
Siang ini memang benar-benar terik. Matahari kembar benar-benar melampiaskan hawa panasnya. Seolah-olah kita dapat menceplok mata sapi menjadi telor di atas pasir ini. Persediaan air minum mulai menipis, termasuk minuman kotak dan kaleng yang kami bawa.
Misk tak henti-hentinya minta minum karena kehausan. Walaupun aku sudah mengingatkannya agar tidak terlalu banyak minum, karena akan semakin haus. Tapi ia tidak mau mendengarkanku. Berisik ah !
Perjalanan melintas Lautan Pasir ini masih panjang, masih setengah jalan lagi. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat angin yang berputar. Debu-debu pasir berterbangan. Semakin lama semakin mendekat. Celaka itu Badai Dinding Pasir !
Kami segera mencari perlindungan, cukup sulit juga karena tidak ada tempat untuk berlindung. Aku mengajak Misk melompat masuk ke sebuah celah kali mati. Tapi belum sempat kami bergerak, di kejauhan, tampak 2 orang penunggang kuda sedang dikejar-kejar segerombolan pasukan berkuda.
- Ah, itu Jaka Seger dan Rara Anteng, kata Dodo. Mereka di kejar pasukan Mogul.
- Cepat kita harus menyelamatkannya.
- Di tengah badai begini ?, aku mengeluh, sambil menghalangi mata dari butir pasir berbisik.
Pasir berbisik ? itu judul film. Pasir disini berterbangan liar boo !.
Kami segera menyongsong Badai Dinding Pasir, untuk menyelamatkan Jaka Seger dan Rara Anteng.
- Kenapa kita tidak menolong Jaka Tarub saja, mencuri selendang Nawang Wulan ?, Simn anggota termuda mengeluh. Kasihan matanya kelilipan.
Kami tidak menghiraukannya.
- Buat formasi…..! Reno Laba dan Simn ! lindungi Jaka Seger dan Rara Anteng. Yang lain ikut aku, menghadang pasukan Mogul, Dodo memberi instruksi.
- Siap laksanakan…… !, kataku.
Aku dan Laba dan Simn segera melindungi dan mengamankan Jaka Seger dan Rara Anteng. Dodo dan yang lain menghadang pasukan Mogul. Aku mengajak yang lain mengungsi di celah-celah kali mati, menghindari Badai Dinding Pasir.
Sementara itu Dodo dan yang lain berhadapan dengan Mogul dan pasukannya.
- Jadi kaliankah Se7en Swords yang terkenal itu ? , Tanya Mogul menyelidik.
- Benar, kami minta kau tidak menganggu Jaka Seger dan Rara Anteng dan pengikutnya lagi, jawab Dodo tenang.
Di belakangnya Faal dan Sole dan Misk berdiri tegang. Misk yang baru pertama kali berhadapan dengan Mogul agak gemetaran. Gagang pedangnya di genggam erat-erat.
- Hahahaha, bagus, bagus, sekarang baru aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, kata Mogul, matanya liar, memandang Dodo Faal Sole dan Misk bergantian. Tapi jelas terlihat, Mogul hampir tak berkedip menatap Misk.
- Bagaimana mungkin aku akan melepaskan Jaka Seger dan Rara Anteng, dia sudah menentang keputusanku – menaikan harga minyak. Dan yang paling berat, dia sudah mengambil istriku – Rara Anteng, kata Mogul. Kecuali …..
- Kecuali apa ?, Tanya Dodo dengan hati-hati, ia betul-betul memperhatikan setiap gerakan dan ucapan Mogul.
Ia tahu Mogul disamping berbahaya juga agak auban.
- Kecuali kau menyerahkan Misk sebagai pengganti Rara Anteng, hahahahahaha…….. kata Mogul sambil mencoba menyerang ke arah Misk.
Misk cepat bereaksi, Dodo ikut membantu. Tapi hanya sebentar, Mogul cepat kembali mundur. Tenyata ia hanya mencoba-coba saja kekuatan lawan. Mogul kemudian mengajak pasukannya mundur.
- Aku hanya ingin tahu, apakah ilmu yang kau miliki setara dengan kecantikanmu, hahahaahha……., teriak Mogul sambil menjauh.
- Kurang ajar ……, Misk ingin megejar.
- Jangan gegabah, kau bukan tandinganya, kata Dodo mencegahnya. Kita kembali.
Akhirnya seperti semua kebanyakan badai, baik itu Badai Katarina di timur atau Badai Tsunami di barat, pasti berlalu. Demikian juga dengan Badai Dinding Pasir pasti berlalu. Setelah aman, aku mengajak yang lain keluar dari tempat persembunyian. Wajah kami semua belepotan pasir.
Kami melanjutkan perjalanan. Kami hampir mendekati tebing, dimana ada jalan setapak naik ke atas. Kami menyebutnya jalan zig zag. Jalan setapak ini merupakan jalan pintas dan di atas tebing ini nanti akan bertemu dengan jalan desa ke arah Ranu Pane.
Belum sempat kami berjalan mendekati kaki tebing jalan zig zag, Misk mendadak roboh pingsan. Kami betul-betul terkejut, masih untung Sole yang berdiri di sampingnya, bisa meraih tubuhnya sehingga tidak sampai terjatuh ke tanah. Perlahan Sole membaringkannya di tanah.
- Misk, Misk, Dodo menepuk-nepuk pipinya berusaha menyadarkan.
- Biar aku yang menyadarkannya, Rara Anteng ikut membantu.
Rara Anteng menepuk-nepuk pipi Misk lagi untuk menyadarkannya. Tapi Misk bergeming. Kami mulai dicekam rasa panik dan ketakutan.
- Celaka …! Misk terkena racun Ikan Asin Laut Tawar, rupanya tadi Mogul menyebarkan racun itu. Kita terpaksa minta penawarnya pada Mogul. Untuk sementara, bantu aku menyalurkan hawa murni ke tubuh Misk, kata Dodo.
- Wah kalau terjadi apa-apa, kita bisa digantung guru, kataku agak bingung.
Dodo segera duduk bersila, tubuh Misk di dudukan di depannya, membelakanginya. Kemudian Dodo segera menyalurkan hawa murninya, melalui ke dua tangannya yang ditempelkan di punggung Misk. Aku duduk di belakang Dodo, melakukan hal yang sama. Disusul Faal. Begitu juga Sole, di belakangnya duduk Laba.
- Sole, ‘napa di punggungmu ada peta sulawesi ?, tanya Laba.
- Peta ? itu tato ikan arwana toloy ……, jawab Sole.
- Bukan, itu lele dumbo hik hik hik ……, Simn nyeletuk.
Malam ini bulan kembar bersinar purnama. Terang banget. Sinarnya menghalau semua bintang. Udara malam menusuk tulang. Dingin banget.
- Sebenarnya aku mau ngasih tau, aku kenal seorang tabib di Desa Sehat Pasar Besar di kaki Gunung Kawi. Tapi makhluk nya agak aneh. Kera Ngalam. Angin-anginan. Satu waktu dia mau menolong orang tanpa pamrih. Di lain waktu, ia sama sekali tidak mau di temui siapa saja. Masuk angin-lah, buang angin-lah. Jadi angin-anginan, kata Faal.
- Namanya Tabib Sas, dia sakti mandra guna, lanjutnya.
- Tidak ada salahnya, kau coba, kata Dodo.
Faal berpikir sejenak.
- Baiklah, aku akan coba sms Tabib Sas, mudah-mudahan ia punya obat penawarnya, kata Faal.
- Nama obat penawarnya : Bandeng Asap Duri Lunak, kata Dodo pada Faal.
Faal cepat-cepat sms dan syukur alhamdulilah, temannya tabib Sas ini, termasuk orang yang proaktif dan koporatif. Tidak sampai 3 jam, kiriman obatnya sudah datang. Masih ditambah Buah Semangka Tanpa Biji. Untuk cuci mulut pesannya. Jadi Misk bisa cepat-cepat tertolong.
- Bagus, jadi besok kita bisa menggempur Mogul dan anak buahnya lagi, kata Dodo.
- Besok, kita siapkan formasi Do Re Mi untuk menggempur Mogul dan anak buahnya, lanjutnya.
Formasi Do Re Mi ini sudah cukup popular terutama bagi penggemar Sounds Of Music. Nama Do Re Mi sendiri diambil dari nama depan inisial nama kami. Do untuk Dodo. Re untuk Reno. Mi untuk Misk. Fa untuk Faal. Sol untuk Sole. La untuk Laba. Si untuk simn. Jadi DO RE MI FA SOL LA SI……… Gatot kalo mau ikutan ambil suara - mulutnya jangan lebar-lebar, entar kemasukan garputala gitu loh.
Pagi hari sebelum ayam jago berkokok, sebelum matahari kembar bangkit dari peraduannya. Kami para Se7en Swords sudah terlibat dalam pertarungan melawan Mogul dan anak buahnya. Tapi pada kenyataannya Mogul benar-benar tangguh, apalagi anak buahnya juga benar-benar tangguh. Serangan kombinasi Do Re Mi kami beberapa kali dapat di patahkan.
Ilmu Batok Kelapa Terbang senjata Mogul benar-benar dahsyat dan mematikan. Batok kelapa tersebut begitu cepat sehingga dapat memenggal kepala musuh tanpa suara. Bahkan saking dahsyatnya, sampai musuh tidak menyadari kalau kepalanya sudah terpisah dari badannya. Beberapa kali serangan kami dipatahkan dengan senjata tersebut. Beberapa kali juga kepala kami nyaris terkena serangannya.
Begitu juga jurus Kursi Penghisap Sukma yang mampu menghisap sukma musuh-musuhnya tanpa ampun. Begitu musuh jatuh terduduk di kursinya, maka tanpa ampun lagi, sukmanya akan dihisap abis-abisan. Sehingga kalau sudah duduk, lupa berdiri.
Konon, kursi tersebut terbuat dari kayu Jati Kawat Balung Wesi. Jadi benar-benar keras. Pedang kami tak bisa memutusnya. Begitu juga Chain Saw yang kami pinjem dari Kawanan Penebang Liar.
Akhirnya Dodo mengubah setrategi pertarungan.
- Kita pergunakan formasi menyerang Jie Sam Soe Fatsal 9, kata Dodo.
- Tapi kita hanya bertujuh, jawab Laba.
- Siapa bilang …., Jaka Seger dan Rara Anteng menimpali. Kami siap membantu.
- Bagus kalau begitu.
Yang dimaksud dengan formasi penyerangan Jie Sam Soe Fatsal 9 adalah formasi penyerangan : 4 3 2 - kita benar-benar mengandalkan 2 penyerang kembar di depan. Aku dan Dodo. Formasi ini jarang kami lakukan kecuali terpaksa. Itupun kalau kami bisa mendapatkan 2 pemain bayaran.
Pagi hari sebelum ayam jago berkokok, sebelum matahari kembar bangkit dari peraduannya. Kami para Se7en Swords sudah terlibat dalam pertarungan melawan Mogul dan anak buahnya. Tapi pada kenyataannya Mogul benar-benar tangguh, apalagi anak buahnya juga benar-benar tangguh. Serangan kombinasi Do Re Mi kami beberapa kali dapat di patahkan.
Sekarang kami bersiap-siap melakukan kick and rush, melakukan serangan balik dengan formasi Jie Sam Soe Fatsal 9. Dan ini benar-benar efektif. Mogul dan anak buahnya benar-benar kewalahan. Beberapa kali Simn Laba Jaka Seger Rara Anteng yang merupakan pemain lapis belakang, ikut naik membantu menyerang. Dan akhirnya Mogul dan anak buahnya terkalahkan.
Akibat dari pertarungan yang maha dahsyat itu, menyebabkan puncak Bromo hancur lebur jadi debu. Menyisakan sebuah kawah yang besar. Mogul dan anak buahnya terkubur ke dasar kawah. Senjata andalan Mogul, Batok Kelapa Terbang, berubah menjadi gunung. Begitu juga Kursi Penghisap Sukma miliknya ikutan berubah menjadi gunung juga.
- Aduh kasihan sekali ya , kata Rara Anteng pada Misk.
- Ya hik hik hik hik….., Misk menangis sesenggukan.
- Aku berjanji walaupun Mogul ini jahat tenan, tetapi karena ia bertarung sungguh-sungguh secara kesatria, maka nanti aku dan seluruh rakyatku akan memberikan upeti berupa hasil bumi ke kawah bromo sebagai rasa hormat kami.
- Aku setuju, kita serahkan setiap bulan ke 10 – kesada, Jaka Seger setuju.
- Baguslah kalau begitu. Jadi sekarang kita bisa membantu Jaka Tarub untuk mencuri selendang Nawang Wulan, kata Simn belum menyerah.
- TIDAAAAAAAAAK ……..! jawab kami.
- Sekali ini aja, please,……. Simn pantang menyerah.
- Ya boleh ya ya ……..
10 oktober 2005
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar