Jumat, 02 November 2007

ANDAI HARI ESOK TIDAK PERNAH DATANG

Tidak terasa sudah hampir 3 tahun aku meninggalkan sekolahku ini. Setelah lulus dari sini aku melanjutkan kuliah ke Bandung. Kedatanganku kembali kesini untuk menjemput adikku, Dik. Dia sedang latihan band. Sebenarnya Dik tidak mau dijemput, ia bisa pulang bersama teman-temannya. Tapi aku memaksa, entahlah malam ini aku ingin melihat-lihat lagi suasana sekolahku ini. Kebetulan aku juga sedang pulang ke kotaku.
Hampir jam 8 malam, ternyata Dik belum selesai juga. Ia latihan main band di aula sekolah. Dik main bas.
- Bentar lagi, mas, katanya.
Aku hanya mengangguk saja. Mula-mula aku duduk-duduk saja dekat situ sambil melihat Dik dan teman-temannya main band.
- Kami akan ikutan audisi dreamband, kata Dik dan teman-temannya.
Aku hanya tertawa saja. 1 - 2 lagu aku masih bisa menikmati, tapi lagu berikutnya aku tak tahan lagi. Aku memberi isyarat untuk keluar aula.

Sambil menunggu aku mulai berjalan-jalan di halaman sekolah. Di luar dingin sekali. Sekolah ini cukup luas, bangunan untuk kelas terdiri 2 lantai, dilengkapi Gedung untuk Administrasi dan Guru, Gedung Perpustakaan, Gedung Olaraga dan Lapangan sepak bola mini. Mengelilingi sebuah taman kecil di tengah dan sebuah patung setengah badan. Kepala sekolahnya – seorang pastur, baru beberapa bulan yang lalu meninggal dunia. Anak didiknya senang memanggil namanya romo Sis. Pekerjaannya tiap pagi menagih Tatibsi.
Keadaan di luar kelas tidak terlalu terang, penerangan hanya lampu taman. Koridor kelas agak gelap, tidak semua lampu dinyalakan. Aku segera berjalan menyusuri koridor kelas. Sambil sekali-kali melihat ke arah taman. Samar-samar aku melihat seseorang sedang duduk disana. Tidak begitu jelas, aku segera menghampirinya. Rupanya seorang murid disini, cewek, tampak masih memakai seragam sekolahnya. Aku menyapanya, kemudian duduk di sebelahnya.
- Belum pulang ? tanyaku.
- Sebentar lagi, cewek itu menjawab. Manis juga. Rambutnya pendek.
- Nggak nunggu di dalam saja, kataku.
Kupikir, mungkin menunggu salah seorang temannya yang sedang mengikuti kegiatan ekstra kurikuler juga.
Ia menggeleng kepala, Enak disini saja.
- Kelas berapa ? aku bertanya lagi.
- Klas 2 IPA, jawabnya.
- Aku juga dulu klas IPA juga, kataku. Cewek itu diam saja.
- Aku lebih menyukai Fisika daripada Matematika, kataku lagi.
Cewek itu tetap diam saja. Kupikir aku mungkin terlalu banyak bicara membuatnya tidak nyaman. Kami berdua hanya duduk diam-diam saja. Aku agak bingung juga mengajaknya bicara. Akhirnya aku bangkit berdiri, hendak meninggalkannya.
- Mau membantuku ? , tiba-tiba cewek itu berkata lagi.
Aku kembali duduk Boleh, jawabku. Membantu apa ?
- Mencari cincin, jatuh di sekitar sini.
Aku tertawa, bukannya tidak mau membantu, tapi sekarang ‘kan sudah gelap, kenapa tidak dicari besok siang saja ?
- Waktuku tidak banyak, ia kemudian bangkit berdiri dan mulai mencari-cari sekitar tempat itu.
Kemudian ia duduk di bawah dan mulai mengkorek-korek tempat itu dengan menggunakan sebatang ranting. Aku menggelengkan kepala.
- Dasar keras kepala, kataku. Mana kelihatan gelap begini.
- Kalau tidak mau membantu, ya sudah kau boleh pergi, katanya agak ketus.
Aku terperangah dengan jawabannya.
- Kau mengingatkan aku pada seseorang , kataku sambil ikut jongkok di sebelahnya.
- Pacar ?, tebaknya.
- Dulu, sekarang jadi pacar teman sendiri, jawabku. Oh ya, namaku Sam, aku mengulurkan tangan.
- Aku Lay, tapi ia menolak menjabat tanganku. Aku tidak pernah melihatmu.
- Kebetulan aku menjemput adikku sedang latihan band di aula, aku menjelaskan.
- Kau tidak marah pacarmu direbut temanmu ? tanya Lay.
- Tidak, jawabku. Malah sekarang aku taruhan dengannya.
- Taruhan apa ?
- Dalam waktu 30 hari aku akan mencari cinta lagi
- Hi, hi, hi, lucu …… kayak judul film saja, Lay tertawa.
- Aku pernah juga bertaruh, kata Lay lagi.
- Bertaruh apa ? gantian aku yang bertanya.
- How to lose a guy in 10 days, jawab Lay sekenanya..
Kami tertawa.
- Kau pasti butuh waktu lebih dari 10 hari, kalau aku jadi pacarmu, kataku. Minimal mesti 50 first dates.
Kami tertawa lagi. Ternyata Lay menyenangkan juga, tapi mungkin karena ia terbilang agak cantik saja. Agak cantik ? ya begitulah, mukanya agak pucat. Beberapa menit mencari, tiba-tiba badan Lay terhuyung-huyung hendak jatuh. Aku menahannya kemudian membimbingnya duduk di bangku.
- Kau tidak apa-apa ? tanyaku. Aku agak kaget saat memperhatikan wajah Lay. Kau pucat sekali, kau sakit ya ?
Lay mengangguk pelan, sakit sekali rasanya.
- Sakit apa Lay ? kau sudah ke dokter, kataku. Aku mengusap keringat di dahi dan ujung hidungnya.
Ia mengangguk, Dokter belum berhasil menentukan penyakitnya apa. Hanya bilang aku diserang virus ganas. Tubuhku kehilangan daya tahannya, tidak mampu memproduksi antibody maksimal.
- Kau seharusnya banyak istirahat di rumah, bukan keluyuran disini malam-malam, kataku.
- Tapi aku harus menemukan cincin itu sebelum aku mati, jawabnya.
Aku terkejut dan tidak mengerti.
- Kau harus optimis untuk sembuh, kataku. Jangan bicara yang tidak-tidak .
Lay menatapku dan tersenyum, kau baik sekali Sam, terima kasih. Aku hanya berharap andai saja hari esok tidak pernah datang.
- Kenapa ? aku semakin tidak mengerti. Pembicaraannya seperti orang yang sudah putus asa. Hanya menunggu waktu untuk dipanggil saja.
- Dengan datangnya hari esok, penyakitku akan semakin ganas. Aku tak tahan lagi. Lebih baik tak ada lagi hari esok.
- Sudahlah, aku menggeleng-gelengkan kepala, Aku ambilkan minum dulu ya, atau …… kau ikut aku ke aula yuk, aku mengajaknya.
Lay menolak, Aku menunggu disini saja.
- Kau tidak takut sendirian ? tanyaku.
Lay tersenyum, kau yang seharusnya takut.
- Aku ? aku menunjuk hidungku, sambil pura-pura menggigil ketakutan.
Aku kemudian mendekatkan wajahku dan berbisik padanya dengan suara kubuat seram, hati-hati disini banyak setan,hiy…
Lay tersenyum, mukanya yang pucat tidak dapat menutupi kecantikannya.
Aku lalu pergi meninggalkannya dan berjalan ke arah aula. Barangkali ada yang bawa minuman, katakudalam hati. Ah, untunglah ada yang bawa minuman gelas. Aku mengambil 2 buah kemudian kembali lagi ke tempat Lay.
- Mau kemana lagi, mas ?, tanya Dik.
Rupanya mereka sudah selesai latihan, sekarang sedang merapikan alat-alat musiknya.
- Ke taman sebentar, jawabku. Entah kenapa aku tidak menceritakan tentang Lay.
Sesampai di taman, ternyata Lay sudah tidak ada.
- Lay ? Lay ? aku memanggilnya.
Aku mengelilingi taman. Tapi Lay tidak kutemukan. Aku bermaksud kembali ke kelas. Tiba-tiba seseorang memanggilku. Aku melihat Lay, ternyata dia sudah ada di koridor lantai atas. Ia melihat ke arahku dan melambaikan tangannya, menyuruhku naik. Aku segera naik menyusulnya. Aku menyodori minuman gelas. Lay menerima dan meminumnya. Terima kasih, Sam.
- Ini kelasku, Lay menunjukan ruangan kelasnya.
Lalu menarik tanganku masuk ke ruangan klasnya. Kami berdua masuk. Ketika aku hendak menyalakan lampu, Lay mencegahku.
- Enak gelap begini, kata Lay.
- Wah kebetulan, kataku dalam hati. Pikiranku mulai melayang, siap tahu dapat kesempatn menciumnya.
- Aku akan mencari cincinku disini. Barangkali jatuh disini, kata Lay lagi.
- Ya……h, aku mengeluh, Gelap begini …..? Aku garuk-garuk kepala.
- Cincinku bermata berlian, pasti akan bersinar dalam gelap, Lay menjelaskan padaku. Ia kemudian memeriksa kolong meja dan kursi.
Aku mengikutinya. Beberapa kali kepala kami terantuk meja. Bahkan saling beradu kepala. Kami berdua tertawa. Lalu duduk di lantai bersandar pada bangku.
- Rumahmu dimana Lay ? aku bertanya padanya. Kapan-kapan aku main ke rumahmu, apel malam minggu.
- Jangan, rumahku jauuuuh, jawab Lay sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian, nafas Lay tersengal-sengal.
- Ada apa Lay ?, kataku.
Lay tidak menjawab, ia seperti kesulitan bernafas.
- Aaaaaku …tercekik.., suaranya terputus-putus.
Aku menjadii panik kemudian berusaha menariknya keluar kelas, tapi Lay menolak. Ia memberontak.
- Aku panggil yang lain ya, kataku sambil berdiri dan setengah berlari keluar kelas. Dari koridor atas aku berteriak ke bawah. Tolong….! Tolong ….!
Beberapa orang berhamburan keluar ke halaman melihat ke arahku.
- Ada apa ? ada apa ?, adikku terkejut ia segera berlari ke atas diikuti yang lain.
- Ada yang sakit, di dalam kelas, kataku. Aku masuk kembali ke kelas. Seseorang menyalakan lampu. Tapi Lay sudah tidak ada.
- Lay , Lay, aku memanggilnya, sambil memeriksa seluruh kelas. Tidak ada.
Adikku seperti terkejut.
- Sam, kau kenal Lay dimana ? tanya Dik keheranan.
- Di taman, dia sedang sakit, jawabku, sambil berjalan keluar kelas. Aku kemudian memeriksa ruangan kelas sebelah. Yang lain mengikuti.
- Sam, Lay memang sakit, tapi dia ada di rumah sakit !, kata Dik di belakangku.
Aku seperti menabrak tembok, berhenti mendadak. Akibatnya orang-orang di belakangku terlambat berhenti sehingga menabrakku. Kami semua berjatuhan. Di saat terjatuh itulah aku melihat sesuatu yang berkilauan di sudut kelas. Aku segera merangkak mendekatinya. Aku berhasil menemukan cincin Lay !
- Lay datang kesini untuk mencari cincinnya ini, kataku sambil menunjukan cincin itu pada Dik dan yang lain.
- Sam, Lay tidak mungkin kesini, penyakitnya semakin hari semakin parah, jawab Dik. Ia memang kehilangan cincinnya beberapa hari sebelum jatuh sakit.
Tapi Dik tidak dapat menyembunyikan rasa herannya juga, mendengar aku telah bertemu Lay dan membantu mencari cincinnya.
- Kalau Lay di rumah sakit, aku tadi bertemu siapa ?, tanyaku.
Awalnya aku juga keheranan, tapi kemudian buluku kudukku mulai berdiri. Semua pasti merasakan hal yang sama. Kami saling berpandangan, dan tanpa menunggu aba-aba lebih lanjut lagi. Kami semua berlari turun.

Kami tak menyadari ketika perlahan Lay muncul dan berusaha mematikan lampu di ruangan kelasnya. Berulang kali ia menekan tombol, tapi jarinya hanya menembus tombol itu. Seseorang bertubuh tinggi besar membantunya dari belakang, mematikan lampu. Mata Lay perlahan menitikkan air mata.
- Terima kasih Sam, kau telah menemukan cincinku, bisik Lay.
Orang itu kemudian mengajak Lay pergi. Waktumu sudah tiba.
- Tidak bisakah aku bersama Sam sebentar lagi saja ? suara Lay tercekat.
Orang menggeleng, Waktumu sudah tiba. Duniamu sudah berbeda.

Sampai di bawah, HP Dik berdering, ia menerimanya, Apa …? Iya..iya.
Dik menutup Hpnya, Lay baru saja meninggal.

Aku tak tahu harus berbuat apa. Sekarang aku baru mengerti semua ucapan Lay yang kuanggap aneh tadi. Aku menimang-nimang cincinnya. Aku tidak mengerti kenapa Lay memilihku. Pasti bukan karena aku ganteng, pasti ada alasan lain yang tidak kumengerti.
- Mas, kita antarkan cincinnya ke keluarganya di rumah sakit, kebetulan aku kenal keluarganya walaupun kami tidak sekelas, kata Dik.
Aku ragu-ragu untuk mengangguk
- Aku ……. Bagaimana kalau besok pagi saja ……., terus terang aku agak ragu-ragu. Bukan apa ada rasa ngeri juga.
- Ayolah mas, kita ke rumah sakit sekarang, Dik mendesakku.
- Sekarang ….? Apa perlu malam ini juga …..?, Kenapa nggak besok saja Dik ? Sudah malam, sudah gelap. Aku sudah ngantuk, terus terang agak segan juga aku untuk mengantarkan cincin itu sekarang.
Dik tidak menghiraukannya, aku yang nyetir.


April 2004

Tidak ada komentar: