Senin, 29 Oktober 2007

Memoirs Of Ga'isa

MEMOIRS OF GAISA

Teman dekatku sedikit sekali, salah satunya Cun. Kami berteman dari SMP kemudian berlanjut ke SMA. Setelah lulus kami berpisah. Aku merantau ke kota B, melanjutkan kuliah, Cun menetap di kota kami, M. Sejak itulah kami lama tidak bertemu. Walaupun kami berjanji : kalau ada sumur di ladang boleh kami menumpang mandi, kalau ada umur kami panjang bolehlah kami bertemu lagi.
2 tahun kemudian salah seorang temanku yang lain memberi khabar, Cun sudah menikah.
- Diamput ! dengan siapa ? tanyaku. Ah, pertanyaan bodoh !
- Ya dengan istrinya, dengan siapa lagi…., jawab salah seorang temanku yang lain itu. Ia menyebut satu nama, Lin.
Aku tidak mengenalnya. Pasti dikenalnya setelah kami berpisah. Walau agak kecewa, karena tidak diberitahu, aku menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya, sewaktu liburan.
Cun begitu bahagia dan bangga sekali dengan kehidupan barunya. Ia memperkenalkan Lin. Kami saling menanyakan khabar. Cun tidak melanjutkan kuliah, ia sudah bekerja di sebuah perusahaan karoseri mobil.
- Untuk apa sekolah tinggi-tinggi, toh nanti kerja juga, alasannya.
- Kau bagaimana, Tom, sudah siap-siap menikah juga ? Lebih baik menikah di usia muda, jadi nanti kalau anak kita sudah besar, kita tidak terlalu tua.
- Aku belum siap untuk menikah, Cun. Aku masih ingin jadi bujangan dulu. Kata Koes Plus, kesana kemari tidak ada yang melarang.
- Ha.hahahah….., Cun menertawakanku.
- Kalau kau sudah menikah hidupmu tidak berantakan, ada yang mengatur. Lihat saja diriku, kau tidak iri, sepulang kerja ada yang menyambut di rumah, sudah menyiapkan makanan di rumah. Dan nanti kalau sudah ada anak. Kau bisa bermain-main dengannya. Melepaskan segala kecapekan bekerja.
Aku diam saja mendengarkan. Aku merasa gaya bicara Cun sudah berubah, sudah kebapakan. Penuh nasehat. Penuh petuah. Orang tua banget.
- Kau sudah punya calon istri, Tom ?
- Calon istri ? aku menggelengkan kepala. Pacar saja aku belum punya, belum laku.
- Serius Tom, Aku tidak percaya atau aku akan mencarikan calon istri untukmu.
- Hehehe…., no thanks, aku bisa cari sendiri. Tidak usah jadi mak comblang.
Setelah ngobrol ngalor ngidul aku berpamitan pulang.

Di kota B, aku mengkontrak sebuah paviliun 2 kamar, dengan Har. Ia baru kukenal, sewaktu kami bersama-sama mencari kontrakan. Har juga kuliah di sebuah akademi perhotelan, aku di sebuah universitas.
Aku segera melaporkan perjalanan pulangku ke kota M. Terutama tentang temanku Cun. Begitu juga dengan nasehat Cun, yang menyuruhku untuk cepat-cepat menikah juga.

- Bagus juga nasehat temanmu itu, komentar Har. Agar hidupmu teratur. Coba kau lihat hidupmu sekarang. Bagaimana ?
Ya hidupku sekarang berantakan, kamarku tak pernah rapi. Untunglah ada Har yang selalu merapikan. Baik kamarku, maupun pavilion yang kami tempati ini. Bahkan Har juga pintar memasak. Hanya sayangnya dia tidak mau sekalian cuci setrika.
- Sialan kau, tak tahu diuntung, umpat har.
- Tidak sia-sia kau belajar di perhotelan, jadi itung-itung sekarang kau bisa langsung praktek di tempat kita, kataku selalu.
- Aku kuwatir dengan hidupmu Tom, kau hanya perlu seorang istri atau hanya seorang pembantu.
Aku tertawa.
- Jadi menurutmu apa bagusnya nasehat teman ku itu, tanyaku.
- Kau kan banyak kandidat istri, tinggal kau pilih satu.
- Iya juga sih, tapi rasanya nggak ada yang cocok.
- Jangan begitu, coba aku bantu memilah milihnya.
Melihat aku hanya diam bengong saja, Har berkata lagi, Baik, kita mulai dengan Ing - Gadis berbahasa Inggris.

Kami menjulukinya Gadis Berbahasa Inggris. Karena aku mengenalnya di tempat kursus bahasa Inggris. Setiap hari Senin dan Kamis. Ia punya senyuman manis. Aku hanya bertemu di tempat kursus selama 2 jam. Dari jam 4 sampai jam 5 sore. Tapi kemudian, berkelanjutan terus. Akhirnya menjadi semacam pertemuan ritual, dari jam 3 sore sampai jam 9 malam. Harinya tetap hari Senin dan Kamis.
Sekarang aku harus menjemputnya dulu di tempat kostnya, baru kami bersama-sama ke tempat kursus. Sepulang kursus aku mengembalikannya ke tempat kost. Tapi lama kelamaan Ing menuntut lebih. Ing mulai sering memintaku untuk menemani ke mal dulu atau kemana dulu, barulah kami pulang. Terkadang memaksaku untuk menemaninya nonton. Untung ngajaknya tiap hari Senin, ada program nomat.
Jam 9 malam, barulah Ing melepaskanku pulang. Itu dikarenakan tante kost membatasi jam berkunjung tamu hanya sampai jam 9 malam. Kecuali malam minggu. Tetapi sialnya setiap hari Sabtu sore, Ing sudah dijemput orang tuanya untuk pulang ke kota G. Ing memang berasal dari sana.

- Kau tak pernah mencoba untuk datang tiap hari Tom ?, tanya Har keheranan.
Aku menggelengkan kepala, kecuali kalau aku mau menggantikan guru les nya. Ing banyak ikut les, les matematika, les fisika, les computer, les balet, les renang.
Har tertawa, kau jadi guru lesnya ? …..jangan …. jangan, Ing itu lebih cerdas darimu, tau gak.
- Cobalah kau ajak dia untuk menikah, kata Har lagi.
Aku menggelengkan kepala lagi, aku gaisa Har.
- Paling cepat juga aku harus menunggu 2 tahun lagi. Ing masih kelas 2 SMA, orang tuanya pasti gak setuju, jadi rencana untuk cepat-cepat menikahinya harus ditunda dulu. Paling tidak ia lulus SMA dulu.
- Salahmu sendiri, nyari daun muda melulu, kata Har.
- Aku gak nyari, aku menemukannya, aku membela diri.
- Sami mawon. Ok sekarang bagaimana dengan Sunday Girl ?
- Maksudmu San ?
- Sapa lagi, emang Sunday Girl-mu ada berapa ?

Kami menjulukinya Sunday Girl, karena aku bertemu dengannya di setiap hari minggu saja. Setiap hari minggu aku sering lari pagi di bukit P di kawasan kota B utara. Udaranya masih sejuk segar. Banyak orang kesana. Aku mengenal San disana.
San lebih tua 5 tahun dariku, dia sudah bekerja. San baik sekali padaku, kami menghabiskan hari minggu bersama. Dari matahari terbit sampai matahari terbenam. Ia agak memanjakanku. Banyak membelanjakan kebutuhanku terutama pakaian. Walau terkadang aku tak menyukai modelnya, tapi San selalu memaksaku untuk memakainya. Aku merasa seperti mannequin berjalan saja bersama dia.
- Nah mestinya San mau kau ajak menikah, dia sudah mapan, kata Har.
- Tapi aku gaisa Har
- Kamu kok banyak gaisa nya, sekarang apalagi alasanmu ?, tanya Har.
- Bagaimana aku harus mengatakan niatku untuk menikahi San, pada Ale, pacar San ? Dia kan atlit bela diri nasional. Salah kata aku bisa bonyok dijadiin sansak hidup.
- Belalang kupu-kupu kasian deh elo ! Jadi, sekarang tinggal kandidat terakhir.
- Oh,oh, jangan yang satu ini. Benar-benar jauh dari mimpiku.
- Ayolah siapa tahu yang ini mau
- Mau ? Coba dengar dulu ceritaku ini.

Aku kemudian menceritakan tentang kandidat terakhir ini. Lis namanya. Ia teman kuliahku. Badannya gendut, pipinya gendut, tangannya gendut, lehernya gendut, pahanya gendut, itunya gendut juga, maksudku kacamata nya gendut juga. Tapi aneh, otaknya encer sekali. Lis pintar sekali, IQ nya 180. Ia seorang kutu buku sejati. Sebuah ensiklopedi berjalan.
- Kau tahu, aku selalu ranking satu, dari SD dulu, kata guruku - rankingku bahkan bisa di atas ranking satu lho, kata Lis suatu hari padaku.
Padahal sumpah demi lembah dan gunung dan lautan, aku tak pernah menanyakan.
Sampai sekarang nilai B nya hanya satu - dua tiap semester, lainnya A+. Ia bangga sekali. Kelihatan dari lubang hidungnya yang besar itu kembang kempis. Aku senang duduk di dekatnya, terutama kalau pas ujian. Senang banget.
- Aku tahu, kau senang duduk dekatku bukan karena kau PDKT kan, tapi karena kau ingin dapat contekan dariku, katanya tanpa basa basi.
Aku hanya mengangguk lemah. Malu juga ditembak begitu, emangnya aku ini cowok apaan.
- Tidak usah malu begitu, bukannya aku menolak kalau kau naksir aku, tapi karena aku gaisa ditaksir-taksir sembarangan. Aku takut kau malah jadi broken heart.
- Ya ampun, aku mengeluh dalam hati. PD sekali Lis ini.
- Aku dari kecil sudah dijodohkan, ini calon suamiku, sekarang dia sedang sekolah S3 di Amrik, Lis mengeluarkan sebuah foto dan menyodorkan padaku.
Aku agak segan menerimanya. Kupikir tak mungkinlah aku melihat seraut wajah Tom Cruise, tapi tak urung aku terkejut juga.
- Gemuk sekali……, komentarku. Itu foto seorang pesumo.
- Iya, gara-gara dia aku jadi ikutan gemuk. Aku dulu juga seimut-imut pacar SMA mu itu.
Lis kenal dengan Ing. Kami pernah bertemu di sebuah toko buku. Ia tahu Ing masih SMA dari seragamnya.

- Jadi ia sudah punya calon suami ? tanya Har.
Aku mengangguk lemah.
- Sudahlah lupakan nasehat Cun, enak hidup begini. Kemana-mana nggak ada yang ngelarang.
- Berarti kandidatmu masih kurang Tom, kau harus rajin mencarinya lagi.
Aku diam saja. Entah kenapa, secara diam-diam aku memperhatikan Har. Ia begitu baik padaku. Lebih dewasa dari Ing. Lebih memanjakan dari San. Dan tentu saja lebih langsing dari Lis.
Kalau kupikir-pikir, kami lebih sering menghabiskan waktu bersama. Bahkan lebih lama dari pada bersama Ing atau San atau bahkan Lis sekalipun. Kami bisa seharian di Time Zone atau seharian di rumah saja, nonton film serian Korea. Usia kamipun sama. Har berasal dari keluarga broken home di kota J. Orang tuanya sudah cerai.
- Hei…..hallo ? kok malah melamun, kata Har.
Aku tersenyum, aku lagi berpikir ….. tentang dirimu.
- Tentang diriku, tak usahlah yauw, Har mencibir.
- Benar, bukan kah kita sudah menghabiskan waktu bersama. Sudah hidup bersama. Bagaimana kalau kita menikah saja, Har ?
- Kau gila Tom, bagaimana mungkin …?
- Ah, bisa saja. Ayolah Har, aku mendesaknya.
- Tidak, tidak, tidak, kau masih normal Tom, suatu saat kau pasti bisa mendapatkan istri yang baik.
- Ayolah……

Tiba-tiba terdengar kegaduhan di luar. Aku dan Har melongok dari jendela. Sebuah mobil menerobos masuk setelah mendobrak pintu pagar dan terus meluncur ke arah teras. Baru berhenti. Ada tamu datang !.
Aku melihat ke arah Har, mungkin tamunya. Tapi Har mengangkat bahu. Aku berdiri dan membuka pintu. Seorang wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak berdiri di hadapanku. Wanita itu rambutnya di sanggul dandannya agak menor.
- Betul disini rumah Har ?, tanya wanita setengah tua itu. Suaranya keras. Kelihatan sekali wanita setengah tua itu memendam amarah yang besar.
- I-i-iya ……, aku menjawab agak ragu-agu. Ada apa ini, kataku dalam hati.
Belum selesai aku menjawab, wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak sudah menerobos masuk.
Aku berpikir cepat, lalu menjawab, Har sedang pulang kampung……...
Wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak itu tidak menghiraukan ucapanku. Tidak percaya begitu saja. Anehnya, ia hanya melihat sekilas ke arah Har, yang sudah berdiri gemetaran di sampingku, kemudian memeriksa kamar-kamar kami. Sampai ke kamar mandi juga di periksa. Aku memeluk Har, terus terang kami berdua gugup dan ketakutan.
Begitu tahu yang dicari tak ada, wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak itu bergerak ke arah pintu hendak keluar. Mereka agak terperangah melihat kami berdua saling berpelukan. Melihat itu, wanita setengah tua membuang muka, merasa jengah sendiri. Dengan agak mencibir, ia bilang dengan ketus, Bilangin Har, jangan sekali-kali mengganggu suamiku ! Aku tak mau berbagi suami dengannya. Mengerti kau …….!
Tiba-tiba HP wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak itu berbunyi.
- Halo…..ya ada apa ? Haaaaah ! Salah alamat ? ….lho bukan salah alamat ? Jadi …? Salah…salah … salah kota ? Gimana sih informasinya ? kok bisa salah kota gini.
Wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak itu uring-uringan.
- Kita salah kota, kata wanita wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak itu.
- Maksud nyonya kita salah alamat ?, tanya 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak itu.
- Bukan salah alamat, …..S-A-L-A-H K-O-T-A !
- Kok bisa gitu …..
- Dasar gemblung ! mestinya kota C bukan kota B !, kata wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak itu.
Ia lalu tersenyum malu-malu pada aku dan Har.
- Dik, sori ya kita ini salah kota, alamatnya sudah benar lho, kata wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak itu sambil mengeluarkan uang dari tas cangklongnya, ini buat perbaikan pintu pagar yang jebol itu, tadi rem mobilnya blong, tuh lagi diperbaiki ama sopir.
Aku hanya mengangguk. Tentu saja aku tidak lupa menerima setumpuk uang dari wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak itu.
- Tidak….tidak apa-apa, nanti isa dibetulkan kok, jawabku.
Masih sempat kudengar suara wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak itu berkata pada sopir, gimana remnya udah beres ?.
- Belum nya, nyonya pulang naik taksi dulu aja, jawab sopir wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak.
- Ngatur loe …!
- Disini susah nyari taksi, tapi di ujung jalan itu ada pangkalan ojek, kataku.
- Hu……h, wanita setengah tua di sertai 2 pemuda berbadan tegap dan berambut cepak mendengus kesal.
Lalu bergegas keluar menuju ujung jalan mencari ojek.
Aku hanya mengangkat bahu. Belum sempat aku bernafas lega, ada sms masuk. Dari Cun ! ( read ) Gmn Tom sdh dpt blum ? kuknlkan Tia, tmn Lin yak ?
Kujawab : Diamput……! ( send ).
Ya….. abis dah !

Tidak ada komentar: