Sabtu, 05 Juni 2010

lewat tengah malam !

Hampir lewat tengah malam, agak segan juga untuk pulang, jarak antara Jember – Negara jauh juga, belum lagi harus menyeberang. Ombak selat Bali sedang tidak bersahabat. Apa boleh buat, besok pagi sudah banyak pekerjaan yang menunggu. Aku dan Oka baru saja menghadiri pernikahan kakak Win, Mau.
Win juga khawatir, pulang besok pagi saja.
Aku menggelengkan kepala, Tidak apa-apa, kami sudah biasa jalan malam. Jam 11 lebih kami meninggalkan rumah Win. Oka yang menyetir, aku duduk di sampingnya terkantuk-kantuk, antara tertidur dan terjaga.
Jam sudah menunjukan lewat tengah malam. Selepas Sempalan perjalanan lancar, jalanan sepi dan gelap. Kami melewati jalur selatan. Jember – Sempalan – Kalibaru – Genteng – Rogojampi – Banyuwangi/Ketapang.
Tapi baru saja kami meninggalkan Sempalan, tiba-tiba muncul seseorang menyeberang jalan begitu saja. Aku berteriak memperingatkan Oka. Tapi terlambat ! Jaraknya sudah terlalu dekat. Oka berusaha keras menginjak rem, tapi tetap saja tak bisa menghentikan laju kendaraan seketika. Tak ampun lagi, orang itupun tertabrak.
Oka diam terpaku, ia seperti baru tersadarkan, ..... nyaris saja nabrak !.
- Sing ken ken, kau sudah menabraknya Ka, aku melihat ke belakang. Gelap sekali. Aku melihat ke sekeliling, gelap sekali.
- Mau kemana kau ? tanya Oka melihat aku membuka pintu.
- Melihat korban, jawabku.
Oka ikut turun mengikutiku dari belakang. Tapi aneh tidak ada apa-apa, aku berdiri kebingungan sambil memeriksa ke sekitar. Aneh, padahal jelas tadi ada seseorang menyeberang dan Oka menabraknya. Aku dan Oka memeriksa lebih teliti lagi, tetapi tidak ada siapa-siapa. Bahkan bekas tabrakannyapun juga tidak ada.
- Sam ….. kau yakin kita tadi menabrak seseorang disini ?, tanya Oka.
Aku menganggukkan kepala. Tiba-tiba bulu kudukku mulai berdiri, aku mulai ketakutan, ada yang aneh disini. Aku dan Oka saling berpandangan. Rupanya Oka juga memiliki perasaan yang sama denganku, tanpa banyak bicara, aku dan
Oka segera berlari ke arah mobil. Untung mesin mobil masih menyala, aku segera membuka pintu mobil. Celaka, pintunya terkunci !
- Tidak mungkin, aku tadi tidak menguncinya, teriak Oka.
Aku mendorong-dorong pintu mobil, tapi tetap terkunci. Oka segera berlari ke belakang mencoba membuka pintu belakang, ia mendorong-dorong pintunya. Tepat pada saat itu seberkas sinar warna biru melesat dan masuk ke kepala Oka. Oka agak tersentak, tapi ia terlalu memperhatikan karena sibuk membuka pintu. Berhasil ! Oka segera melompat masuk, ia mencoba membuka kunci pintu dari mobil. Macet ! Aku berlari ke belakang mobil.
Aku sempat melihat ke belakang, kali ini tampak sesosok bayangan berusaha merayap untuk bangkit berdiri, tangannya melambai-lambai ke arah kami. Sang korban ! Betulkah ? Aku tertegun. Kenapa tadi tidak ada ? Dari mana dia muncul ?
- Cepat Sam !, teriakan Oka menyadarkan.
Aku segera meloncat ke dalam mobil, tapi orang itu bergerak lebih cepat lagi. Ia berhasil meraih kakiku.
- Tolong Ka ….. !, kataku.
Oka membantu menarikku, aku berhasil juga melepaskan diri. Oka meloncat ke kursi depan meraih kemudi dan segera tancap gas. Aku menutup pintu mobil, orang itu masih berusaha menahannya, tapi terlepas. Wajahnya tidak jelas, tapi aku yakin pasti berlumuran darah, mengerikan sekali. Hanya giginya terlihat bersilau, aku yakin itu pasti gigi palsu. Semacam terbuat dari logam.
Kami cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut. Di dalam mobil kami hanya berdiam diri, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Nafas kami berdua masih tersengal-sengal.
- Apa yang terjadi ?, Oka masih penasaran. Ia mencoba melihat dari kaca spion, tidak kelihatan apa-apa, gelap sekali di belakang sana.
- Entahlah, aku menggelengkan kepala, tidak mengerti.
Kantuk kami hilang seketika.
- Rasanya tadi bukan manusia, Ka ?, kataku.
Oka melihat ke arahku, maksudmu ?
- Aku juga tidak tahu.
Mata Oka tak berkedip memperhatikan jalanan di depan.
Tak beberapa lama kami sampai di sebuah SPBU. Aku melirik penunjuk bahan bakar, hampir seperempat. Aku menyuruh Oka untuk berhenti dan mengisi bahan bakar. Suasana SPBU sepi sekali, tidak ada orang. Oka membunyikan klakson sambil membuka pintu. Aku masih penasaran membuka pintu, mau
melihat bekas tabrakan tadi. Baru saja aku menurunkan kakiku, tiba-tiba saja - entah datang darimana, sudah ada orang di depan mobil. Sambil menunjuk-nunjuk bagian depan mobil, ia mulai marah-marah. Disusul kemudian beberapa orang mulai berdatangan. Aku tidak jadi turun, Oka cepat-cepat tancap gas meninggalkan tempat itu.
Kami mengusap keringat dingin yang keluar. Melalui kaca spion, aku masih melihat orang-orang itu sedang menunjuk-nunjuk ke arah kami. Anehnya, jari telunjuk mereka terbuat dari emas.
- Aneh, datang dari mana mereka ? , aku masih terheran-heran.
Oka tidak menjawab, wajahnya tegang sekali. Setelah agak jauh, kami berdua agak tenang.
Kami merasa perjalanan semakin panjang, tidak sampai-sampai. Oka terus memacu kendaraan menembus hutan yang masih lebat itu. Akhirnya mendekati subuh jam 4, kami sampai juga di Ketapang. Lega sekali, kami langsung naik ke feri. Di dalam feri, aku malas keluar dari mobil. Oka keluar, naik ke dek atas cari udara segar. Aku merebahkan diri mencoba memejamkan mata. Peristiwa tadi masih terbayang-bayang. Tertidur sebentar, aku sering tersentak bangun sendiri.
Sosok bayangan berusaha bangkit, mulutnya menyeringai menampakkan gigi yang kemilau terbuat dari logam, muncul dalam mimpi pendek. Keringat dingin mengucur deras. Tak lama Oka muncul.
- Kita harus kembali ke sana lagi, Sam, kata Oka mengajakku.
- Kenapa Ka, aku benar-benar tidak mengerti.
- Kalau tidak, kita akan terus dibayang-bayangi peristiwa ini, jawab Oka.
Aku termangu-mangu. Betul juga, pikirku. Tanpa banyak bicara lagi Oka memutar mobil. Kami berdua kembali lagi ke tempat tadi.
Tanpa kusadari cuaca yang tadi terang berubah menjadi gelap. Sesampai
disana, ternyata orang-orang itu masih ada dan seperti menunggu kedatangan kami. Tentu saja aku terkejut, aku memperingatkan Oka untuk memutar balik mobil. Tapi Oka tidak menghiraukannya, ia melaju terus semakin kencang.
Aku berteriak-teriak ke arah Oka, tapi ........
- Kau.......kau .......kau bukan Oka ! , aku menjerit.
Oka sudah berubah, wajahnya perlahan berubah.
Aku berteriak, tapi suaraku seperti tersekat, tidak keluar.

- Sam ….! Sam…! Bangun ….! Disertai gedoran di pintu.
Aku tersentak bangun. Mimpi buruk ! Bajuku basah dengan keringat. Rupanya feri sudah sampai di Gilimanuk. Oka menggedor pintu, tak tahu kenapa pintu mobil terkunci. Aku membuka pintu.
- Ada apa Sam ?, Oka bertanya padaku, sambil menyodorkan sebuah harian lokal terbitan beberapa hari lalu. Bacalah !

Jember.
Sebuah SPBU di dekat Kalibaru, meledak dan terbakar menyusul serbuan sekelompok warga yang marah. Kejadian ini dipicu dengan peristiwa tabrak lari yang terjadi beberapa waktu sebelumnya. Peristiwa tabrak lari itu sendiri terjadi 300 meter sebelum SPBU tsb dari arah Sempalan. Korbannya
seorang warga setempat. Lokasi kejadian berada di tengah hutan, jauh dari pemukiman penduduk. Pelaku tabrak lari diduga mengendarai mobil jenis Jip Kemudian berkembang isu bahwa pelaku bersembunyi di SPBU tsb, menyebabkan warga yang marah, lalu datang menyerbu SPBU tsb. Hal itu berakibat fatal, SPBU tsb meledak dan terbakar. Korban tewas 2 orang dan 5 orang luka-luka. Warga berhasil dibubarkan oleh satuan Kepolisian yang datang dari Jember dan beberapa orang ditahan untuk dimintai keterangan.

Aku tertegun membacanya, benar-benar menakutkan. Tapi terus terang saja aku masih penasaran. Kenapa harus menimpa kami ? Atau mungkin karena jenis mobil yang kupakai sama. Jenis Jip. Aku semakin penasaran, apalagi ketika memeriksa bemper depan - benar-benar peyok seperti bekas menabrak sesuatu.
Setelah keluar dari feri, kami mencari tempat parkir untuk sarapan.
Ada beberapa warung, kami memilih sarapan ToKil ( soto kikil ) vieuw enaknya. Bahannya : ½ kg kikil dipotong kecil kotak-kotak 4x4 cm. Di bersihkan dan di rebus setengah matang. Untuk kuah : bahan-bahannya seperti ketumbar merica bawang putih secukupnya digerus halus, di rebus. Untuk penyedap rasa pakai kaldu ayam. Kemudian potongan kikil tadi di masukkan ke dalamnya. ToKil siap dihidangkan. Untuk sambal, pakai cabe rawit digerus halus. Semakin pedas semakin enak.
Kalau agak siang sedikit ada menu ayam betutu, vieuw pedas sekali. Semuanya pedas, yang tidak suka pedas boleh mencoba kolak tape singkong. Yang manis kayak pemilik warung. Walaupun pemilik warung ini cantik manis, jangan coba-coba untuk colak colek, suaminya orang Osing cemburonan.
Kami makan diam-diam, tanpa suara.

bersambung

Tidak ada komentar: