Aku terkejut, terjadi perubahan pada Oka, tubuhnya terus mengurus. Aku bertanya-tanya, kau diet ? Tapi Oka menggelengkan kepala. Lebih aneh lagi, biarpun tubuhnya mengurus, nafsu makannya betul-betul meningkat pesat. Setiap saat ia selalu ingin makan dan makan. Apa yang terjadi, benar-benar tidak dapat dimengerti. Selama sebulan ini Oka sudah kehilangan 10 kg berat badannya.
- Belum pernah ada kasus seperti ini. Semacam bulimia, tapi lain, kata beliau.
Waktu terus berjalan, keadaan Oka semakin parah. Oka semakin kurus saja, sudah seperti tengkorak berjalan. Ia betul-betul kehilangan berat badan. Jalannya sudah tertatih-tatih. Aku dan teman-teman Oka yang lain juga kebingungan.
Sampai akhirnya, seorang Tetuah Adat setempat, Pekak Tantra, memberi tahu bahwa Oka kena teluh. Aku dan Oka terdiam. Aku hanya berandai-andai, apakah ada hubungannya dengan kejadian sebulan yang lalu. Dan ternyata Pekak Tantra mengiyakan.
- Kau telah menabrak Sang Bahurekso Penunggu Gunung Raung.
- Bagaimana mungkin ? gunungnya masih jauh dari lokasi kami menabrak.
- Entahlah, kita kan tidak pernah tahu apa yang dikerjakan mereka. Mereka bukanlah manusia seperti kita.
- Jadi kami harus bagaimana ?
- Kalian berdua harus naik gunung Raung, menemui dia, mohon maaf.
- Bagaimana mungkin ? Menggerakkan kakinya saja Oka tidak bisa, kataku.
- Jangan khawatir kami akan menemanimu, kata teman-teman Oka.
- Tidak boleh, tidak boleh, hanya mereka berdua yang harus menemui mereka di puncak Raung sana, kata Pekak Tantra.
- Jadi …….?
- Paling tidak kalian bisa mengantar sampai batas puncak, Pondok Mayit ?
Pekak Tantra mengangguk-angguk, Kau harus hati-hati, sebab yang akan kau hadapi nanti adalah alam dunia bawah sadarmu. Kau harus mampu mengendalikan ruang pikiranmu.
Aku tidak mengerti.
- Disana kau akan mengerti sendiri, kau akan memasuki ruang pikiranmu sendiri. Menciptakan alam dunia bawah sadarmu, jadi yang kau hadapi nanti bukanlah dunia nyata seperti sekarang ini. Yang akan kau hadapi adalah makhluk lain bukan manusia seperti kita, mahkluk yang terbentuk dari ruang pikiranmu sendiri, Pekak Tantra menjelaskan.
Aku tetap tidak mengerti. Pekak Tantra hanya menggeleng-gelengkan kepala, kasian deh eloe !
Naik gunung Raung di saat normal saja cukup melelahkan, apalagi sekarang dengan kondisi Oka yang sakit, lebih melelahkan lagi. Kami bergantian menggendongnya. Di pondok mayit, kami berpisah. Aku dan Oka dengan susah payah melanjutkan perjalanan, aku memapah Oka mulai mendaki puncak.
Win dan yang lain melepas kepergian kami dengan berat hati. Pasir batu, kabut tebal disertai angin yang kencang, benar-benar menghalangi jalan. Tempat ini sudah mulai terbuka. Seharusnya dari sini sudah terlihat puncak Raung, tapi sekarang tertutup kabut tebal.
Di suatu tempat datar kami berhenti, untuk istirahat. Oka mengelus-elus perutnya. Lapar, lapar. Aku menyodorkan makanan. Aku betul-betul tidak tahan melihat penderitaannya. Tak pernah terbayangkan olehku, Oka mengalami hal seperti ini. Benar-benar kepayahan naik gunung.
- Sam….aku tahu apa yang kau pikirkan, kata Oka lemah.
- Biasanya kau begitu bersemangat disetiap pendakian, kataku.
Oka diam saja, mulutnya sibuk memamah makanan. Ia mangangguk-angguk, mengiyakan.
- Kau…memang gila Sam, kata Oka terbata-bata, mulutnya penuh makanan.
- Kau tahu Sam, aku benar-benar cemburu waktu kau pergi berdua dengan Win, keliling pulau Bali. Aku benar-benar cemburu.
Aku hanya tertawa, tentu saja aku ingat.
- Aku tak menduga begitu cemburunya kau waktu itu, sampai terjatuh dari climbing wall. Win begitu panik mendengar kau jatuh.
Entahlah saat ini aku ingin menggodanya terus. Aku ingin melupakan bahwa kami dalam perjalanan menuju puncak untuk mencari Sang Bahurekso Penunggu Gunung Raung. Malang benar perjalananku kali ini.
- Sebenarnya perlu tidak sih kita kesini ?, kataku sambil berbaring di sebelahnya. Ada rasa segan melihat ke adaan sekeliling kami. Jalanan tertutup kabut, angin bertiup kencang. Rasa dingin membuat suasana di sekeliling kami terasa mencekam.
- Terserah kau saja Sam, kalau kau merasa tidak perlu kita bisa turun lagi.
Aku terdiam. Wajah Win muncul, Berjanjilah Sam, kau dan Oka akan pulang dengan selamat.
Muncul gambar Mei, tiba-tiba aku merasa rindu sekali padanya. Aku tidak mengerti kenapa aku tidak pernah merindukan Ina. Aku tertidur menyusul Oka yang sudah mendengkur kekenyangan. Atau kelelahankah ?
Tepat tengah malam, aku kaget terbangun. Wah celaka ketiduran !, aku cepat bangkit berdiri, ayo Ka kita berjalan lagi.
Oka diam saja, matanya setengah terpejam. Aku berjongkok memeriksanya.
- Ka, Oka, bangun…. jangan tidur..., aku mengguncang-guncangkan badannya.
Oka diam tak bereaksi. Gawat, kataku agak panik. Belum hilang rasa panikku, tiba-tiba aku melihat sebuah bayangan.
- Mei ….? Aku terkejut. Tak mungkin ini pasti halusinasi. Tak mungkin Mei berada disini. Di puncak Raung !
Perlahan aku mendekati. Bayangan itu benar-benar Mei, ia tersenyum.
- Akhirnya kau datang juga.
- Jadi……jadi kau sudah menunggu kedatangan kami …?
Mei masih tersenyum, tapi sedetik kemudian ia sudah menghunus pedangnya menyerangku.Aku terkejut, what’s going on ? Sejak kapan Mei pandai bersilat ? Aku mengatasi rasa terkejutku, dengan cepat aku berkelit ke samping. Tapi serangan itu ternyata bukan ditujukan padaku. Serangan secara tajam lebih mengarah pada Oka yang tergolek lemah. Serangan penuh dendam amarah.
- Celaka …! Aku berteriak keras. Takkan kubiarkan kau menyentuh dia….!
Aku segera membalikkan badan sambil mengeluarkan pedangku – aku benar-benar tidak mengerti darimana asal pedang ini – ku gunakan pedangku untuk memotong serangan Mei. Inikah dunia bawah sadarku ? seperti kata Pekik Tantra ? Aku bertanya-tanya tidak mengerti.
- Siapa kau sebenarnya ? kaukah sang bahurekso yang kami cari ?, aku penasaran bertanya-tanya.
Tapi Mei tidak menjawab, ia sudah menyusulnya dengan serangan yang lain, kali ini ia mengincar leherku. Aku kembali berkelit walau aku sadar pasti ini sebuah serangan tipuan lagi. Dugaanku betul ! Begitu aku berkelit, Mei sudah membelokkan serangannya kembali ke arah Oka. Akupun mengikuti bayangan pedangnya. Pedang kami kembali beradu. Mengeluarkan suara nyaring dan sinar menyilaukan mata. Aku dan Mei sama-sama terlempar mundur beberapa meter.
Belum sempat aku mengatur nafas, Mei sudah mengambil ancang-ancang untuk menyerangku. Aku tidak terlalu serius menangkisnya, karena aku tahu pasti ini hanyalah sebuah serangan tipuan yang lain. Tapi kali ini aku keliru !
Pedang Mei dengan cepat mengarah ke leherku, aku tak sempat lagi mengelak. Dalam hitungan detik, aku merasakan ujung pedang Mei yang tajam sudah menembus leherku. Tapi kemudian tubuhku bereaksi sendiri, jalur urat nadiku segera bergeser 5 mm. Tusukan pedang Mei tidak mengenainya. Ilmu menggeser urat nadi !
Hal ini juga membuat Mei terkejut, ia segera melompat mundur dengan mata terbelalak. Aku tahu ia pasti tidak percaya. Kesempatan ini kugunakan untuk memulihkan tenagaku dengan cepat. Aku segera melindungi Oka, sambil menunggu serangan Mei berikutnya.
Satu menit dua menit sepuluh menit kemudian. Mei melompat kembali, kali ini aku yakin ia pasti mengeluarkan jurus pamungkasnya. Tubuhnya berputar dengan cepat, dalam sekejap ia sudah berubah menjadi puluhan bayangan. Dimana semuanya mengurung kami berdua dan mulai menyerang kami. Akupun mengeluarkan jurus pertahanan yang ampuh untuk mengimbanginya. Sebenarnya belum sempurna tapi apa boleh buat. Ilmu ulat sutra, aku mengeluarkan energi murniku membentuk semacam kepompong yang keras, yang melindung kami dari puluhan bayangan Mei yang bergelombang mengancam kami.
Semakin lama semakin keras, aku merasa kepompong ulat sutraku pasti tidak akan bertahan lama. Aku sekuat tenaga mempertahankannya. Tapi gelombangan serangan Mei semakin ganas. Akhirnya aku kehabisan tenaga, aku tersungkur di samping Oka.
- Kita mati bersama ….., kataku sambil memegang tangan Oka.
Oka tidak bereaksi, ia sudah berada dalam keadaan hidup dan mati sendiri.
- Sebenarnya aku sudah mati, Sam, Oka menggumam, aku setengah mendengarnya.
Mei sudah menghunus pedang tajamnya ke arah Oka. Dengan memaksakan diri, aku memasang badan melindungi Oka, kuhunuskan pedangku menyongsong serangan Mei. Ujung pedang kami beradu kembali untuk kesekian kali, bergetar dengan dahsyat, pedangku terbelah dua. Pedang Mei terus meluncur mengancamku. Tinggal menunggu waktu saja, aku hanya dapat menatap nanar. Naluri lelakiku mengatakan, haruskah aku mati karenamu ?
oh, selamat tinggal Ina, aku mati, aku ma……..
Belum ! Sebutir peluru emas meluncur ke arah pedang Mei. Membiaskan arahnya, dan pastilah dilancarkan orang yang berilmu sempurna. Bahkan pegangan tangan Mei sampai terlepas. Betul-betul tenaga dalam yang murni dan sempurna. Pasti orang ini bukan orang sembarangan, ilmunya di atas Mei.
- Scaramangana Gantenginus Skali, suamiku ! Kenapa kau halangi aku membunuh manusia-manusia itu ……!, Mei berteriak terkejut. Ia gusar sekali. Ternyata suaminya ! Scaramangana Gantenginus Skali. Aha ! laki-laki bersenjatakan pistol emas.
- Hahahahahaha……..Solitaireu Geulisinus Psan istriku, kalau kau bunuh manusia-manusia itu tentu saja kau membunuh Jaws juga. Kau lupa, dengan ilmu Pemindai Sukma, Jaws memindahkan roh spiritnya ke manusia itu, kata makhluk itu - Scaramangana Gantenginus Skali – menunjuk ke arah Oka.
- Tapi Jaws is death !, dia membunuhnya, kata Mei atau Solitaireu Geulisinus Psan istri dari Scaramangana Gantenginus Skali.
- Dia tidak bermaksud membunuh Jaws, manusia itu tidak punya surat ijin membunuh. Lagipula jangan khawatir, Jaws tidak separah yang kau duga, hanya gigi bajanya yang rontok, tapi sudah bisa kusembuhkan. Gigi bajanya sudah bisa kusambung kembali.
Scaramangana Gantenginus Skali kemudian berjalan menghampiri Oka. Aku bertanya-tanya dalam hati, apa lagi yang akan diperbuat makhluk ini. Walaupun penasaran tapi setidaknya aku merasa lega bahwa makhluk ini tidak berniat membunuh kami.
Scaramangana Gantenginus Skali memegang kepala Oka, tak berapa lama kemudian seberkas sinar biru keluar dari kepala Oka dan masuk ke mulut Scaramangana Gantenginus Skali.
- Jadi sebenarnya, kau lah yang menyebabkan nafsu makan Oka bertambah kuat, kemudian kau juga yang mengambil Sari Pati tubuh Oka, kataku setengah marah setengah tidak percaya.
- Betul, manusia bodoh.
- Selanjutnya apa yang akan kita perbuat pada manusia-manusia ini, suamiku ?. tanya Solitaireu Geulisinus Psan.
- Biarkan manusia-manusia ini pergi, kita sudah cukup menghukumnya, istriku, jawab Scaramangana Gantenginus Skali.
- Hai manusia-manusia, sekarang kalian boleh pergi, kata Scaramangana Gantenginus Skali pada kami.
- Tapi…..tapi….bagaimana dengan penyakit teman kami Oka, ini ? aku bertanya.
- Lihatlah, dia sudah mulai sembuh, jangan khawatir, jawab Scaramangana Gantenginus Skali lalu melesat pergi. Ilmu Ringan Tubuh yang dimiliki Scaramangana Gantenginus Skali begitu sempurna sampai meninggalkan angin yang keras di belakangnya. Solitaireu Geulisinus Psan bersiap-siap
mengikuti suaminya. Sebelum pergi, Solitaireu Geulisinus Psan memandang ke
arahku dan bertanya, kau sedari tadi memanggilmu Mei.
- Siapa Mei ? Apakah ia secantik aku …?
- Lebih cantik, kataku.
Alis mata Solitaireu Geulisinus Psan tertarik ke atas. Kelihatan sekali ia tidak senang kalau kukatakan Mei lebih cantik darinya. Sambil mendengus marah, Solitaireu Geulisinus Psan melesat pergi juga menyusul suaminya.
Perlahan kabut menipis, pagipun datang. Win dan teman yang lain berdatangan. Rupanya mereka mendengar suara pertempuran kami dan segera menyusul kami. Untunglah akhirnya Oka sembuh kembali.
- Terima kasih Sam, kata Win.
- Sudahlah…….
tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar